May 2017

Cara Indah Menikmati Hujan di Jakarta

Saat hujan turun, kota ini kerap memainkan sisi melankolisnya.

Selain banjir, apa lagi hal yang sering diingat kala mendung menggantung di langit Jakarta?

Hampir tak bisa dibedakan lagi ketika berangkat dan pulang kerja menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum, kemacetan bukan lagi momok yang menakutkan, tapi sudah jadi kebiasaan yang sudah tak layak untuk dikutuk dan dikeluhkan. Alih-alih mengumpat, yang ada justru malah membuang hal sia-sia. Apakah dengan mengutuk kemacetan lantas jalanan menjadi lancar seketika? Apalagi saat hujan turun di jam pulang kantor, laju akan terhambat karena banyak pengendara yang berteduh di bawah flyover. Jangan pernah bertanya mengapa mereka tak mempersiapkan diri dengan membawa jas hujan misalnya. Si pengemudi mungkin membawanya, tapi yang menumpang tak mau repot-repot karena tujuan mulanya toh hanya sekadar nebeng.

Ada hal yang dapat dinikmati di Jakarta saat hujan turun. Hujan kerap jadi pertanda apa-apa saja yang sedang dirasakan oleh para penghuninya. Suasananya, rintiknya, aromanya, dari air yang luruh dari langit. Kalau sudah seperti ini, Jakarta terkesan melankolis.

Maka dari kaca jendela sebuah kopaja yang berpacu lambat, bayangkan orang-orang di rumah yang sedang menunggu kehadiran kita. Si kecil yang sedang lucu-lucunya. Senyum merekah anak istri, pun pelukan hangat ayah, juga punggung tangan halusnya ibu yang kita cium bersamaan hidangan istimewa yang ia racik dari bilik dapurnya. Atau sekali dua kali libatkan dan larutlah dalam sebuah obrolan urban di mikrolet yang pintunya tertutup karena air yang kian meninggi. Daerah resapan air di kota ini makin hari kian memburuk. Menurut data BNPB, hanya 15% saja kawasan pemukiman di Jakarta yang wilayahnya membiarkan air hujan jatuh langsung meresap tanah.

Pernah pada suatu sore, saya memerhatikan obrolan ibu-ibu dalam sebuah mikrolet M-09 jurusan Tanah Abang-Kebayoran Lama di kala hujan deras. Satu rombongan keluarga yang saya tafsirkan mewakili tiga generasi: seorang nenek, ibu muda paruh baya, dan seorang anak kecil. Mereka berjejer duduk di dekat sopir. Di sudut paling ujung, ada ibu-ibu berpenampilan agak mencolok, dua-duanya berkacamata dengan ragam aksesoris dan tas bermerek. Sementara di depannya nampak seorang ibu hamil. Kelihatan. Sendirian. Di belakangnya lagi, nampak tiga perempuan dari dua generasi: ibu dan dua anak gadisnya yang terlihat panik karena beberapa kali menanyakan alamat pada sopir. Saya sendiri duduk membelakangi sopir. “Ibu mau nyobain? Ambil aja nih gak bayar kok,” terang seorang nenek dari keluarga tiga generasi. Rupanya, ibu hamil di hadapannya beberapa kali melirik jambu air yang sedang asyik dimakan cucu si nenek. Dengan malu, ibu hamil tadi sempat menolak walau akhirnya berujung, “Gak apa-apa nih saya minta?”

Lampu merah menghadang perjalanan di persimpangan Halte Trans Jakarta Slipi Petamburan. Satu persatu penumpang lainnya tiba di tempat tujuan. Dua ibu berpenampilan mencolok itu baru saja turun tak jauh dari seberang sebuah masjid yang mengarah menuju stasiun Palmerah. Sembari membuka payung, mereka sempat berdiskusi kecil sebelum membayar. Klakson mobil di belakang sempat mengundang kemacetan karena dua ibu itu tak ada uang pas, sementara sang sopir punya masalah serupa; tak punya kembalian. Kalau sudah begitu, kepanikan sopir angkot bisa dimaklumi dan jadi jawaban dari pertanyaan lawas, mengapa mereka suka ngetem seenak udel sih? Karena mereka dikejar setoran dan waktu, apalagi jika klakson dari arah belakang makin melengking-lengking. Tak bisa dipungkiri, sulit menerima kenyataan untuk mencegah ruang pribadi dimasuki budaya publik yang tak punya perubahan. Dari dalam mikrolet, ibu yang tengah hamil merogoh kocek dan menemukan empat lembar lima ribuan yang akhirnya ditukarkan pada dua ibu tadi.

Melintas Pasar Palmerah, hujan sudah mulai reda. Gerombolan anak kecil usia sekolah membawa payung menjajakan jasa menghampiri pintu mikrolet. Pak sopir memberhintakan pedagang asongan yang berjalan di depannya untuk memesan dua batang Dji Sam Soe. Laju kembali melambat.

Sepintas kalau dinikmati, hujan di Jakarta selalu mengundang cerita menarik. Bagi adik-adik ojek payung, tentu hujan selalu dinanti. Recehan yang didapat bisa membantu dan meringankan beban hidup orangtua mereka. Namun ada juga yang suka hujan karena menginspirasi untuk update status media sosialnya. Lantas menjadi penyair membayangkan nasib percintaannya.

Seorang kawan pernah berbagi pengalamannya menyoal hujan, “Aku suka hujan. Tapi pas mau menggalau, eh malah berhenti”.

Jakarta sore ini tetap turun hujan dan pantas dinikmati.

Jakarta nan Melankolis; Obrolan Tentang Cuaca dan Rasa

Di satu sore gerimis bulan November, kawasan Jakarta Selatan basah. Beberapa pengendara motor menepi untuk berteduh. “Awet nih kalau hujannya begini,” tutur Pak Gultom, mekanik sekaligus pemilik bengkel yang jaraknya tak jauh di deretan kantor yang ada di Jalan Mohammad Kahfi, Cipedak. Ia sedang membetulkan ban motor saya yang bocor. Beberapa saat sebelumnya, Pak Gultom baru membetulkan kasus yang sama.  “Kupikir yang tadi itu teman kau!” ujarnya dengan logat Batak yang kental.

Lantas saya membuka obrolan tentang cuaca yang ekstrim belakangan ini.  Selanjutnya ia sendiri mulai banyak bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari banjir, kemacetan, hingga suasana politik era 80-an. Ngobrolin soal politik, kondisi Jakarta saat itu sangat rawan dengan premanisme dan permainan para mafia. Korupsi sangat tertutup rapat karena dari satu instansi ke instansi lain selalu ada yang melindungi, siapa lagi kalau bukan yang punya kuasa. “Sekarang ini beda jaman, siapa saja bisa bersuara. Dulu mana bisa kau teriak-teriakin presiden sembarangan. Yang ada malah kau hilang dan tinggal nama,” ujarnya dengan semangat menggebu. Ia sendiri sudah merantau ke Jakarta sejak tahun 1981. Ia bisa saya ajak ngobrol sambil menunggu pekerjaanya usai. Ban motor yang bocor sedang dipanaskan oleh press ban elektrik yang dimilikinya. Hujan belum juga reda. Apa yang dikatakan Pak Gultom benar.

Read More

Nebraska

Berapa kilometer Anda pernah berjalan kaki tanpa arah dan tujuan seorang diri? Saya pernah mencicipinya dari Gelora Bung  Karno hingga depan gedung walikota Jakarta Selatan di sekitar Blok M sana. Juga pernah jalan kaki dari terminal Pondok Kopi hingga Perkampungan Industri Kecil di Penggilingan.  Keduanya dilakukan jelang matahari terbit dan terbenam.  Mulanya memang tanpa tujuan, tetapi dari situlah banyak hal yang saya temui hingga punya keinginan kuat untuk mendokumentasikannya suatu hari lewat tulisan maupun gambar-gambar.

Apa yang saya lakukan berbeda dengan seorang Woody Grant (Bruce Dern), pria berusia 70-an, yang mencoba jalan kaki dari Billings,  Montana, menuju Lincoln, Nebraska, yang jauhnya mencapai 900 miles. Ia sengaja melakukannya demi hadiah lotere bernilai satu juta dollar. Bukan tanpa alasan, keluarganya pasti akan melarang ia bepergian jauh karena faktor usia. Di sinilah segala konflik dimulai.  Keluarganya bahkan sempat merencanakan mengirim Woody ke panti jompo.

Read More

Sol Sepatu

Siapa berani telanjang kaki ke pesta pernikahan mantan atau gebetan?

Sejak awal peradaban, alas kaki memang menjadi penghias, pelindung, juga sebagai penunjuk status sosial seseorang. Sepatu tertua diketahui publik ditemukan di Fort Rock Cave, Oregon, negara bagian Amerika Serikat, pada tahun 1938. Sepatu dengan anyaman sederhana dari jerami tersebut menurut penelitian radio karbon, setidaknya berusia lebih dari 10.000 tahun. Ketika manusia mulai berkembang, mulailah ada penambahan unsur hewan seperti bulu kelinci atau kulit-kulit binatang buas. Ini dipercaya karena sifat magis yang dapat menambah kecepatan dan keberanian pemakainya.

Read More

Dangdut

Musik dangdut mendayu-dayu dari kamar sebelah ketika pagi hampir tiba. Insomnia menghampiri Joni yang terpaksa mengayuh sepeda, lantas singgah di warung kopi. Satu porsi mie goreng ia pesan. Jarum jam berhenti di angka sebelas ketika pedagang nasi goreng melintas. Jalanan di bilangan UI masih basah, sisa hujan semalam menyisakan genangan. Mangkuk yang tadinya berisi bubur kacang ijo nyaris tak tersisa saat saya memerhatikan tingkah Joni dari bangku seberang. Sebatang kretek saya nyalakan, mengepul ke udara malam yang terus beranjak. Masih asyik mengintip Joni dari bilik etalase yang memajang aneka kaleng susu, sate tusuk, juga deretan kerupuk dalam plastik. Lima belas menit sebelumnya saya tiba lebih awal. Entah sejak kapan kebiasaan baru seperti ini hadir. Tidur lebih awal, bangun sebelum dini hari tiba, melipir sejenak ke warung kopi, lantas tidur lagi. Kopi ternyata tak ada kaitannya sama kantuk.

Read More