Blog

Catatan ringan angin-anginan

Jakarta Kota Tahi

Banyak yang tidak mengetahui bahwa kota lama Batavia sesungguhnya dibangun atas dasar sebuah konsep seorang arsitek bernama Simon Stevin (1548-1620) yang bekerja untuk militer Kerajaan Belanda. Skema ideal, itulah yang dirancang Simon dalam perencanaan tata kota Batavia. Sebagai seorang kepercayaan Prins Maurits, seorang panglima milter Belanda berjuluk Pangeran Oranye, Simon mengawinkan pengetahuan mengenai kota, teknis enjineering yang dikombinasikan dengan ilmu kemiliteran. Konsep ini berpijak pada konsep dasar kota Romawi yang mengandalkan pertahanan dan mobilisasi militer. Simon lantas memadukannya dengan aspek perdagangan dan aspek sipil. Semuanya didesaian secara hirarkis dengan menempatkan aspek-aspek tersebut di wilayah yang strategis. Hal ini pula yang menjadi andalan Kerajaan Belanda dalam membangun kota jajahan lainnya di seluruh dunia seperti di Srilangka dan Suriname. 1

Batavia kemudian dirancang oleh Simon dengan cara seperti negeri asalnya, Belanda, yakni dengan membelah kota menjadi dua bagian dan menemukannya dalam titik lintas pelayaran. Sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit dan tembok yang ditopang oleh benteng-benteng kecil. Di dalamnya terdapat jaringan jalan beserta terusan air yang lurus. Dalam hal ini Ci Liwung yang berkelok kemudian diluruskan menjadi Groote Rivier (Kali Besar) dan memaksa kota menjadi dua bagian, sisi timur dan sisi barat. Namun kota ini jika dilihat dari peta-peta yang ada, tidak berada di garis lurus utara-selatan, tetapi agak melenceng beberapa derajat menjadi timur laut-barat daya.

Read More

Inspirasi Nyata Karya Maurice Leblanc

Maurice Leblanc adalah seorang novelis asal Perancis kelahiran 11 November 1864. Sepanjang karier menulisnya, Leblanc telah melahirkan 60 novel, 21 diantaranya merupakan kisah tentang Arsene Lupin dalam bentuk novel maupun kumpulan cerpen.

Novel pertamanya dipublikasikan tahun 1887, berjudul Une Femme, namun belum mengangkat namanya. Barulah dia dikenal publik saat cerita lepas pertamanya yang memunculkan sosok Arsene Lupin diterbitkan pertama kali di majalah Je Sais Tout edisi 15 Juli 1905. Sosok Arsene Lupin yang ditampilkan sebagai pencuri ulung yang cerdik mendapat sambutan luar biasa dari pembaca.

Sebagai tokoh fiksi, Arsene Lupin merupakan sosok detektif yang dulunya berprofesi sebagai bandit. Karakternya digambarkan sebagai seorang pria genius, humoris, dan cerdas dalam menyelesaikan sebuah kasus. Namun di sisi lain, dia masih sering dicurigai ketika ada satu perampokan besar terjadi.

Read More

Operasi Fortitude: Mengecoh Jerman di Normandia

Kecanggihan teknologi Jerman tak dapat dipungkiri sudah begitu pesat ketika Angkatan Laut mereka menggunakan sandi Enigma pada setiap kapal selamnya. Sehingga pihak Sekutu tidak akan mampu mengetahui, dimana kapal-kapal selam Jerman mengisi bahan bakar, atau pun kapan kapal-kapal itu menyusun strategi penyerangan, pulang ke markas, maupun melakukan penyerangan.

Sandi Enigma bekerja dengan cara mengubah pesan radio menjadi sandi-sandi yang terdiri atas huruf-huruf tak beraturan. Operator penerimanya akan membaca sandi ini di mesin Enigma dan mengubah kembali huruf-huruf kacau ini menjadi teks yang bermakna. Jerman pun yakin Sandi ini akan sulit dipecahkan sekalipun mesin Enigma direbut Sekutu.

Read More

Jejak Mata Pyongyang

Buku ini menceritakan tentang perjalanan Seno Gumira Ajidarma sebagai juri festival film Negara Non Blok dan Berkembang ke-8. Acara rutin 2 tahun sekali ini dilangsungkan di ibukota negara Korea Utara yang kita tahu memiliki paham komunis orthodoks, Pyongyang. Seno tidak banyak menceritakan soal perhelatan festival, tapi lebih menyorot pada keseharian masyarakat Pyongyang, juga warga Korea Utara secara umum. Seno sendiri mengaku agak menyesal karena catatan, yang akhirnya menjadi buku ini, ditulis terlambat 10 tahun. Perlu diketahui bahwa Seno ke Pyongyang hanya 17 hari saja, tepatnya pada tanggal 29 Agustus – 14 September 2002. Latar belakangnya sih karena kematian Kim Jong-iL pada tahun 2011 silam. Saya kurang mendapat informasi lebih jauh mengapa juga kalau catatannya ditulis tahun 2011, buku ini baru terbit 2015.

Dari buku ini saya mengetahui betapa kaku dan terkekangnya orang Korea Utara. Hal ini tak lain karena negara ini punya dasar ideologi Juche yang menyebutkan bahwa manusia adalah tuan dari segala sesuatu yang harus menentukan nasibnya lewat kreativitas dan kesadaran sendiri. Ideologi ini dicetuskan bapak bangsa Korut Kim iL Sung tahun 1955. Kim iL Sung juga merupakan kakek Presiden Korut sekarang, Kim Jong Un. Akibat paham itu, semua yang diucapkan pemimpin bakal jadi sabda. 

Read More

Dan, Saya Telah Menyelesaikan Pertandingan Ini…

Pernahkah terpikirkan bahwa kehidupan yang kita lakoni adalah sebuah pertandingan sepak bola ? Memiliki tujuan untuk menggapai kemenangan, mengorbankan apa yang ada untuk mempertahankan keutuhan sebuah cita-cita, kadang saling sikut menghalalkan segala cara. Tetapi ada juga yang fair play menggunakan text box kehidupan ini lurus pada jalannya mematuhi Law of The Game. Apapun profesi yang dijalani, apapun posisi yang diperankan entah sebagai penjaga gawang, gelandang bertahan, gelandang serang maupun seorang penyerang. Pun begitu, entah pegawai, mandor, manajer, sales, hingga pedagang.

Ronny Pattinsarany adalah sosok yang menjalani permainan ini dengan sempurna, bukan hanya di lapangan hijau. Semangatnya dalam menjalani hidup patut diteladani. Buku setebal 207 halaman ini mengisahkan perjalanan hidup Ronny Pattinsarany sejak kecil hingga akhir hayatnya. Bagaimana ia memulai karir dari nol ketika masuk tim junior PSM atau ketika memutuskan pilihan antara si kulit bundar dan urusan perut serta kecintaannya yang tulus kepada keluarga.

Read More

Iqbal Masih, Martir 3000 Buruh Anak Pakistan

Iqbal Masih lahir di Muridke, sebuah desa kecil yang ada di luar Lahore, Pakistan. Saif Masih, ayahnya lebih dulu meninggal tak lama setelah ia lahir. Dengan begitu, hanya ibunya, Inayat, yang menjadi tulang punggung keluarga yang bekerja menjadi buruh.

Perjuangan hidup dimulai ketika usia Iqbal menginjak empat tahun, bersamaan dengan kakak perempuannya yang akan menikah. Untuk hal ini, tentu saja keluarga harus memiliki uang untuk perayaan. Sebagai keluarga miskin, tak ada cara lain untuk membuat perayaan selain meminjam uang kepada pengusaha lokal. Pihak keluarga kemudian meminjam uang 600 Rupee (sekitar $ 12 kala itu) dari majikan karpet tenun yang ada di Lahore. Karena tidak ada jaminan, pihak keluarga akhirnya menyerahkan Iqbal untuk bekerja sebagai penenun karpet sampai uang tersebut dilunasi. Secara tak langsung, Iqbal telah dijual sebagai budak oleh keluarganya sendiri di usia 4 tahun.

Sistem pinjaman yang diterapkan majikan karpet tersebut tergolong tidak adil. Selama enam tahun berturut-turut, Iqbal bekerja selama enam hari seminggu dengan durasi 14 jam kerja tanpa bayaran sepeser pun selama setahun pertama. Barulah tahun kedua dan seterusnya, ia dapat bayaran 60 Rupee sehari. Semua biaya makan dan inventaris yang dipakai untuk bekerja dikalkulasikan ke dalam pinjaman asli. Bahkan saat ada kelalaian, Iqbal pun sering didenda dan dimasukkan ke dalam uang pinjaman. Belum lagi ada tambahan bunga. Selain itu, keluarga juga masih meminjam uang lainnya ke majikan, sehingga saat Iqbal berusia 10 tahun, total hutang keluarganya mencapai 13.000 Rupee.1

Read More

Semacam Review; 12 Years a Slave

Aku cinta damai, namun aku lebih mencintai kemerdekaan. Kutipan yang pernah saya lihat di sudut Kota Tua beberapa bulan silam kembali terngiang setelah menyaksikan film ini.

Solomon Northup adalah seorang negro bebas. Sedikit bujukan dari dua seniman membuatnya terperosok ke jurang perbudakan. Dalam keadaan mabuk, ia diculik dan diperjualbelikan dengan nama lain, Platt.

Diam-diam Solomon nyaman bertahan menjadi Platt ketika sesama budak negro lainnya, Eliza, selalu menangis dan hampir putus asa karena dipisahkan dari kedua anaknya akibat jual beli budak. Silih berganti, Platt berganti majikan yang digambarkan kaya raya, memiliki banyak budak, dan memiliki perkebunan luas. Platt terus mencari kesempatan yang tepat untuk meyakinkan majikan-majikannya bahwa ia bukanlah seorang budak.

Read More

Ritual Pagi

04:25 pagi saya melirik jam di ponsel, masih dalam kantuk yang tertahan. Lalu melangkah menuju sebuah tempat yang tentunya tidak asing lagi. Kemudian ruangan itu saya tutup daun pintunya “Breaakkk!!”

Apa yang saya lakukan di dalam ruangan ini tidak pernah ada yang tahu. Tidak seorang pun, kecuali Tuhan Yang Maha Pemurah. Ruangan itu pengap, tidak ada jendela sama sekali. Ada celah udara di pojok kanan, namun tertutup sebuah kardus. Semoga saja tidak ada yang mengintip. Inilah tempat ritual saya yang sangat rahasia. Tempat di mana segala ekspresi dan perasaan bisa ditumpahkan tanpa beban.

Samar corong speaker masjid mulai terdengar dari jauh.

Read More

Ibu

Ibu adalah filsuf yang paling naluriah ~ Harriet Beecher Stowe

Jika setiap Minggu warga Jakarta menyerbu kota Bandung untuk sekadar melepaskan penat dari rutinitas, tentunya tidak asing dengan sebuah gunung berapi yang letaknya di antara dua pemerintahan, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang, Gunung Tangkubanperahu. Salah satu kawahnya yang dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat adalah Kawah Ratu. Dibandingkan kawah lainnya, Kawah Ratu punya daya tarik tersendiri. Selain pemandangan yang indah, di sekitar kawah ini juga pengunjung akan disuguhi desah suara seolah-olah suara manusia yang berusaha melepaskan diri dari penderitaan. Nadanya bahkan bakal terasa menyayat saat matahari terbenam. Penelitian ilmiah menyebutkan bahwa desahan suara tersebut berasal dari suara uap belerang yang keluar dari perut bumi.

Namun, masyarakat sekitar Gunung Tangkubanperahu ternyata punya kisah lain. Mereka meyakini bahwa suara desahan di sekitar Kawah Ratu adalah suara Dayang Sumbi yang membenamkan diri ke perut bumi demi menjaga kehormatannya karena tak sudi dipersunting oleh anaknya sendiri, Sangkuriang.  Apalagi saat Gunung Tangkubanperahu menunjukkan aktivitasnya sebagai gunung api, masyarakat sekitar menangkapnya sebagai sebuah pertanda untuk melakukan upacara ritual. Mereka percaya bahwa Ibu Ratu, panggilan untuk Dayang Sumbi, akan mampu membantu meredakan aktivitas vulkanik gunung tersebut. 1

Read More

Sepak Bola Dalam Sunyi

Memasuki menit ke-87, disaat waktu sangat genting dan krusial, sebuah serangan balik yang dilakukan kesebelasan Palestina dari sayap kanan Israel melalui Yahiya Hamid hampir saja menaklukkan penjaga gawang Brehima Struth. Dari sinilah semuanya terjadi.

“Umpan jauh!” Teriak Mujid Hasyim di dalam kotak 16.

Tidak berapa lama, striker itu pun terjatuh di area terlarang. Wasit pun menunjuk titik putih.

Perempat final Piala Dunia 2030 di Jakarta itu sungguh dramatis. Aku termasuk beruntung masih diberikan kesempatan menikmati pagelaran paling akbar sejagad ini. Mimpi pun sama sekali tak pernah ada untuk hadir langsung di stadion megah ini. Aku hadir bersama Widi dan istriku.

Stadion Gelora 58 ini mampu menampung sekitar 60.000 penonton. Arsitekturnya cukup menakjubkan dengan tribun mengerucut mirip sebuah candi. Penamaannya sendiri merupakan penghormatan kepada nama pelatih timnas dulu, Tony Poganik yang sukses menjadikan timnas menjadi macan Asia di masanya. Puncaknya ketika menahan imbang Uni Sovyet di ajang Olimpiade Melbourne tahun 1958. Dulu stadion ini milik PERSITARA, sebelum klub itu dijual dan kini bermarkas di Aceh. Kesimpulanku satu, sepak bola di negeri ini selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau politik pada situasi-situasi tertentu.

Meskipun kapasitasnya lebih kecil dari Gelora Bung Karno, terbukti stadion inilah yang terpilih menjadi partai perempat final dan final bulan Juli nanti. Sementara Gelora Bung Karno hanya mendapatkan jatah penyisihan saja.

Read More
Page 1 of 3123