Blog

Catatan ringan angin-anginan

Mitologi Optimistis

Kebudayaan itu bukan cuma ‘pameran lukisan’; ngopi juga kebudayaan, karena di sana bukan cuma ada perkara selera. ~ Seno Gumira Ajidarma

Baru-baru ini ada berita tentang seni latte art yang diciptakan dari sebuah mesin, bukan dari racikan jari-jari terampil sebagaimana yang kita kenal selama ini. Uniknya, hasil kreasi mesin tersebut bisa menampilkan hasil yang nyaris sempurna. Pelanggan tinggal menyerahkan foto yang diinginkan, dan dalam sekejap mesin tersebut akan melakukan scanning, lalu ditransfer ke mesin pembuat latte dan jadilah foto dalam kopi.

Mesin tersebut bisa saja dimusuhi siapapun yang berkecimpung di dunia latte art yang mengandalkan ketekunan dan kreasi tangan-tangan brilian. Dengannya, secangkir kopi bisa berhiaskan daun pakis, tokoh kartun, atau wajah sendiri yang terbubuhi busa di atas kopi.

“Sayang banget nih kalo diminum,” celoteh seorang teman ketika ditunjukkan foto latte art yang ada Angry Bird di atas kopi.

Beruntung sekali, kafe dengan mesin latte art tersebut tidak ada di Indonesia. Lebih beruntungnya, saya bukan penikmat kopi dengan ragam variasi dan embel-embel, bahkan warna sekalipun. Bagi saya, kopi adalah hitam. Tentu saja ini soal selera, karena seorang teman pernah berkata bahwa selera tidak bisa diperdebatkan.

Read More

Lebaran dan Pulang

Satu sore di tahun 1954, Sitor Situmorang mendapati sebuah pemandangan yang menakjubkan. Usai pulang dari rumah Pramoedya Ananta Toer, ia melewati sebuah pekuburan Eropa. Dilihatnya rembulan yang memantul melalui sela pepohonan tua nan rimbun. Pemandangan itu kemudian melahirkan sebuah karya yang fenomenal lewat sebuah sajak berjudul Malam Lebaran. Isi sajak ini sangat pendek, hanya beberapa kata saja:

bulan di atas kuburan

Dalam pengakuannya, saat itu Sitor ingin bersilaturahmi karena masih suasana Lebaran. Pulangnya, ia kehilangan arah sembari dihinggapi rasa kecewa karena Pram tidak ada di rumah. Melewati jalan berkelok dan licin, tibalah di sebuah pekuburan tersebut. Maka saat ia melihat cahaya bulan itu, seakan menemukan jalan pulang yang sesungguhnya.

Read More

Wadjda (2012)

Wadjda, gadis cilik berusia belasan tahun ini bermimpi punya sepeda. Ini didasari karena tingkah teman bermainnya, Abdullah, yang suka meledek dan mengganggunya. “Lihat saja kalau aku punya sepeda nanti.”

Sayangnya, hukum dan adat Arab Saudi melarang perempuan untuk menggunakan sepeda di ruang publik. Dalam beberapa kesempatan ia sering dimarahi keluarga dan gurunya karena keinginannya yang konyol itu. Setiap pulang sekolah ia melewati toko sepeda dan selalu menitipkan pesan kepada penjaga toko agar sepeda impiannya jgn dijual ke org lain, “Titip sepeda ini untukku”. Di lingkungan sekolah, Wadjda mulai mengumpulkan uang sendiri. Menjual aneka aksesori atau menjadi penyedia jasa pengantar surat. Pihak sekolah sempat mengancam mengeluarkannya karena ketahuan membawa barang jualan. Masalah semakin rumit karena kedua orang tuanya mengalami masalah pernikahan.

Read More

Taxi Tehran (2015)

Mendengarkan keluhan orang dengan raut muka tenang. Sesekali mengernyitkan dahi saat ada tawaran yang harusnya ditolak, entah baik-baik atau pun terang-terangan. Bisa juga dengan ekspresi sebaliknya. Raut ketus tak bersahabat, kepalang cerewet, atau hal tak nyaman lainnya. Sekelumit ini biasa terjadi saat berinteraksi dengan sopir taksi di manapun. Namun, pernahkah membayangkan ketika sudah berjam-jam menikmati perjalanan, kita baru sadar bahwa sopir taksi yang mengantarkan kita ini adalah seorang penjahat atau narapidana politik?

Read More

Cara Indah Menikmati Hujan di Jakarta

Saat hujan turun, kota ini kerap memainkan sisi melankolisnya.

Selain banjir, apa lagi hal yang sering diingat kala mendung menggantung di langit Jakarta?

Hampir tak bisa dibedakan lagi ketika berangkat dan pulang kerja menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Kemacetan bukan lagi  jadi momok yang menakutkan, tapi sudah jadi kebiasaan yang sudah tak pantas lagi untuk dikutuk dan dikeluhkan. Alih-alih mengumpat, yang ada justru malah membuang hal sia-sia. Apakah dengan mengutuk kemacetan lantas jalanan menjadi lancar seketika? Apalagi saat hujan turun di jam pulang kantor, laju akan terhambat karena banyak pengendara yang berteduh di bawah flyover. Jangan pernah bertanya mengapa mereka tak mempersiapkan diri dengan membawa jas hujan misalnya. Si pengemudi mungkin membawanya, tapi yang menumpang tak mau repot-repot karena tujuan mulanya toh hanya nebeng doang.

Ada hal yang dapat dinikmati di Jakarta saat hujan turun. Hujan kerap jadi pertanda apa-apa saja yang sedang dirasakan oleh para penghuninya. Suasananya, rintiknya, aromanya, dari air yang luruh dari langit. Kalau sudah seperti ini, Jakarta nampak melankolis.

Read More

Jakarta nan Melankolis; Obrolan Tentang Cuaca dan Rasa

Di satu sore gerimis bulan November, kawasan Jakarta Selatan basah. Beberapa pengendara motor menepi untuk berteduh. “Awet nih kalau hujannya begini,” tutur Pak Gultom, mekanik sekaligus pemilik bengkel yang jaraknya tak jauh di deretan kantor yang ada di Jalan Mohammad Kahfi, Cipedak. Ia sedang membetulkan ban motor saya yang bocor. Beberapa saat sebelumnya, Pak Gultom baru membetulkan kasus yang sama.  “Kupikir yang tadi itu teman kau!” ujarnya dengan logat Batak yang kental.

Lantas saya membuka obrolan tentang cuaca yang ekstrim belakangan ini.  Selanjutnya ia sendiri mulai banyak bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari banjir, kemacetan, hingga suasana politik era 80-an. Ngobrolin soal politik, kondisi Jakarta saat itu sangat rawan dengan premanisme dan permainan para mafia. Korupsi sangat tertutup rapat karena dari satu instansi ke instansi lain selalu ada yang melindungi, siapa lagi kalau bukan yang punya kuasa. “Sekarang ini beda jaman, siapa saja bisa bersuara. Dulu mana bisa kau teriak-teriakin presiden sembarangan. Yang ada malah kau hilang dan tinggal nama,” ujarnya dengan semangat menggebu. Ia sendiri sudah merantau ke Jakarta sejak tahun 1981. Ia bisa saya ajak ngobrol sambil menunggu pekerjaanya usai. Ban motor yang bocor sedang dipanaskan oleh press ban elektrik yang dimilikinya. Hujan belum juga reda. Apa yang dikatakan Pak Gultom benar.

Read More

Nebraska

Berapa kilometer Anda pernah berjalan kaki tanpa arah dan tujuan seorang diri? Saya pernah mencicipinya dari Gelora Bung  Karno hingga depan gedung walikota Jakarta Selatan di sekitar Blok M sana. Juga pernah jalan kaki dari terminal Pondok Kopi hingga Perkampungan Industri Kecil di Penggilingan.  Keduanya dilakukan jelang matahari terbit dan terbenam.  Mulanya memang tanpa tujuan, tetapi dari situlah banyak hal yang saya temui hingga punya keinginan kuat untuk mendokumentasikannya suatu hari lewat tulisan maupun gambar-gambar.

Apa yang saya lakukan berbeda dengan seorang Woody Grant (Bruce Dern), pria berusia 70-an, yang mencoba jalan kaki dari Billings,  Montana, menuju Lincoln, Nebraska, yang jauhnya mencapai 900 miles. Ia sengaja melakukannya demi hadiah lotere bernilai satu juta dollar. Bukan tanpa alasan, keluarganya pasti akan melarang ia bepergian jauh karena faktor usia. Di sinilah segala konflik dimulai.  Keluarganya bahkan sempat merencanakan mengirim Woody ke panti jompo.

Read More

Sol Sepatu

Siapa berani telanjang kaki ke pesta pernikahan mantan atau gebetan?

Sejak awal peradaban, alas kaki memang menjadi penghias, pelindung, juga sebagai penunjuk status sosial seseorang. Sepatu tertua diketahui publik ditemukan di Fort Rock Cave, Oregon, negara bagian Amerika Serikat, pada tahun 1938. Sepatu dengan anyaman sederhana dari jerami tersebut menurut penelitian radio karbon, setidaknya berusia lebih dari 10.000 tahun. Ketika manusia mulai berkembang, mulailah ada penambahan unsur hewan seperti bulu kelinci atau kulit-kulit binatang buas. Ini dipercaya karena sifat magis yang dapat menambah kecepatan dan keberanian pemakainya.

Read More

Dangdut

Musik dangdut mendayu-dayu dari kamar sebelah ketika pagi hampir tiba. Insomnia menghampiri Joni yang terpaksa mengayuh sepeda, lantas singgah di warung kopi. Satu porsi mie goreng ia pesan. Jarum jam berhenti di angka sebelas ketika pedagang nasi goreng melintas. Jalanan di bilangan UI masih basah, sisa hujan semalam menyisakan genangan. Mangkuk yang tadinya berisi bubur kacang ijo nyaris tak tersisa saat saya memerhatikan tingkah Joni dari bangku seberang. Sebatang kretek saya nyalakan, mengepul ke udara malam yang terus beranjak. Masih asyik mengintip Joni dari bilik etalase yang memajang aneka kaleng susu, sate tusuk, juga deretan kerupuk dalam plastik. Lima belas menit sebelumnya saya tiba lebih awal. Entah sejak kapan kebiasaan baru seperti ini hadir. Tidur lebih awal, bangun sebelum dini hari tiba, melipir sejenak ke warung kopi, lantas tidur lagi. Kopi ternyata tak ada kaitannya sama kantuk.

Read More

Ramadan dan Mereka yang Sudah Berpulang

Abukhori terduduk lesu di sudut teras yang berdekatan dengan sebuah toilet. Separuh hari baru saja ia lewati ketika azan zuhur berkumandang dari masjid yang jaraknya 300 meter. Hari begitu menyengat di pertengahan Ramadan ini. Tak ada makan siang, kepulan asap rokok, dan secangkir kopi sebagai pelepas penat sekaligus sumber tenaga baru. Lelap, ia pun tertidur di teras tersebut.

Sudah 25 tahun lebih ia berprofesi sebagai tukang di sebuah klinik swasta di bilangan Bekasi Barat. Jika dikalkulasikan usianya kala itu yang masuk di angka 50, berarti setengah umurnya habis untuk pengabdian dan loyalitas. Siapa yang mengenalnya bakal menyebut kalau ia manusia serba bisa. Ia bisa menginstalasi listrik, pemugar bangunan, peracik arsitektur, bahkan petugas parkir yang handal. Untuk keahliannya yang terakhir ia kerap jalani usai magrib tiba. Kala pengunjung klinik ramai-ramainya.

Read More