Blog

Catatan ringan angin-anginan

Ibu

Ibu adalah filsuf yang paling naluriah ~ Harriet Beecher Stowe

Jika setiap Minggu warga Jakarta menyerbu kota Bandung untuk sekadar melepaskan penat dari rutinitas, tentunya tidak asing dengan sebuah gunung berapi yang letaknya di antara dua pemerintahan, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang, Gunung Tangkubanperahu. Salah satu kawahnya yang dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat adalah Kawah Ratu. Dibandingkan kawah lainnya, Kawah Ratu punya daya tarik tersendiri. Selain pemandangan yang indah, di sekitar kawah ini juga pengunjung akan disuguhi desah suara seolah-olah suara manusia yang berusaha melepaskan diri dari penderitaan. Nadanya bahkan bakal terasa menyayat saat matahari terbenam. Penelitian ilmiah menyebutkan bahwa desahan suara tersebut berasal dari suara uap belerang yang keluar dari perut bumi.

Namun, masyarakat sekitar Gunung Tangkubanperahu ternyata punya kisah lain. Mereka meyakini bahwa suara desahan di sekitar Kawah Ratu adalah suara Dayang Sumbi yang membenamkan diri ke perut bumi demi menjaga kehormatannya karena tak sudi dipersunting oleh anaknya sendiri, Sangkuriang.  Apalagi saat Gunung Tangkubanperahu menunjukkan aktivitasnya sebagai gunung api, masyarakat sekitar menangkapnya sebagai sebuah pertanda untuk melakukan upacara ritual. Mereka percaya bahwa Ibu Ratu, panggilan untuk Dayang Sumbi, akan mampu membantu meredakan aktivitas vulkanik gunung tersebut. 1

Read More

Sepak Bola Dalam Sunyi

Memasuki menit ke-87, disaat waktu sangat genting dan krusial, sebuah serangan balik yang dilakukan kesebelasan Palestina dari sayap kanan Israel melalui Yahiya Hamid hampir saja menaklukkan penjaga gawang Brehima Struth. Dari sinilah semuanya terjadi.

“Umpan jauh!” Teriak Mujid Hasyim di dalam kotak 16.

Tidak berapa lama, striker itu pun terjatuh di area terlarang. Wasit pun menunjuk titik putih.

Perempat final Piala Dunia 2030 di Jakarta itu sungguh dramatis. Aku termasuk beruntung masih diberikan kesempatan menikmati pagelaran paling akbar sejagad ini. Mimpi pun sama sekali tak pernah ada untuk hadir langsung di stadion megah ini. Aku hadir bersama Widi dan istriku.

Stadion Gelora 58 ini mampu menampung sekitar 60.000 penonton. Arsitekturnya cukup menakjubkan dengan tribun mengerucut mirip sebuah candi. Penamaannya sendiri merupakan penghormatan kepada nama pelatih timnas dulu, Tony Poganik yang sukses menjadikan timnas menjadi macan Asia di masanya. Puncaknya ketika menahan imbang Uni Sovyet di ajang Olimpiade Melbourne tahun 1958. Dulu stadion ini milik PERSITARA, sebelum klub itu dijual dan kini bermarkas di Aceh. Kesimpulanku satu, sepak bola di negeri ini selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau politik pada situasi-situasi tertentu.

Meskipun kapasitasnya lebih kecil dari Gelora Bung Karno, terbukti stadion inilah yang terpilih menjadi partai perempat final dan final bulan Juli nanti. Sementara Gelora Bung Karno hanya mendapatkan jatah penyisihan saja.

Read More

Mitologi Optimistis

Kebudayaan itu bukan cuma ‘pameran lukisan’; ngopi juga kebudayaan, karena di sana bukan cuma ada perkara selera. ~ Seno Gumira Ajidarma

Baru-baru ini ada berita tentang seni latte art yang diciptakan dari sebuah mesin, bukan dari racikan jari-jari terampil sebagaimana yang kita kenal selama ini. Uniknya, hasil kreasi mesin tersebut bisa menampilkan hasil yang nyaris sempurna. Pelanggan tinggal menyerahkan foto yang diinginkan, dan dalam sekejap mesin tersebut akan melakukan scanning, lalu ditransfer ke mesin pembuat latte dan jadilah foto dalam kopi.

Mesin tersebut bisa saja dimusuhi siapapun yang berkecimpung di dunia latte art yang mengandalkan ketekunan dan kreasi tangan-tangan brilian. Dengannya, secangkir kopi bisa berhiaskan daun pakis, tokoh kartun, atau wajah sendiri yang terbubuhi busa di atas kopi.

“Sayang banget nih kalo diminum,” celoteh seorang teman ketika ditunjukkan foto latte art yang ada Angry Bird di atas kopi.

Beruntung sekali, kafe dengan mesin latte art tersebut tidak ada di Indonesia. Lebih beruntungnya, saya bukan penikmat kopi dengan ragam variasi dan embel-embel, bahkan warna sekalipun. Bagi saya, kopi adalah hitam. Tentu saja ini soal selera, karena seorang teman pernah berkata bahwa selera tidak bisa diperdebatkan.

Read More

Lebaran dan Pulang

Satu sore di tahun 1954, Sitor Situmorang mendapati sebuah pemandangan yang menakjubkan. Usai pulang dari rumah Pramoedya Ananta Toer, ia melewati sebuah pekuburan Eropa. Dilihatnya rembulan yang memantul melalui sela pepohonan tua nan rimbun. Pemandangan itu kemudian melahirkan sebuah karya yang fenomenal lewat sebuah sajak berjudul Malam Lebaran. Isi sajak ini sangat pendek, hanya beberapa kata saja:

bulan di atas kuburan

Dalam pengakuannya, saat itu Sitor ingin bersilaturahmi karena masih suasana Lebaran. Pulangnya, ia kehilangan arah sembari dihinggapi rasa kecewa karena Pram tidak ada di rumah. Melewati jalan berkelok dan licin, tibalah di sebuah pekuburan tersebut. Maka saat ia melihat cahaya bulan itu, seakan menemukan jalan pulang yang sesungguhnya.

Read More

Wadjda (2012)

Wadjda, gadis cilik berusia belasan tahun ini bermimpi punya sepeda. Ini didasari karena tingkah teman bermainnya, Abdullah, yang suka meledek dan mengganggunya. “Lihat saja kalau aku punya sepeda nanti.”

Sayangnya, hukum dan adat Arab Saudi melarang perempuan untuk menggunakan sepeda di ruang publik. Dalam beberapa kesempatan ia sering dimarahi keluarga dan gurunya karena keinginannya yang konyol itu. Setiap pulang sekolah ia melewati toko sepeda dan selalu menitipkan pesan kepada penjaga toko agar sepeda impiannya jgn dijual ke org lain, “Titip sepeda ini untukku”. Di lingkungan sekolah, Wadjda mulai mengumpulkan uang sendiri. Menjual aneka aksesori atau menjadi penyedia jasa pengantar surat. Pihak sekolah sempat mengancam mengeluarkannya karena ketahuan membawa barang jualan. Masalah semakin rumit karena kedua orang tuanya mengalami masalah pernikahan.

Read More

Taxi Tehran (2015)

Mendengarkan keluhan orang dengan raut muka tenang. Sesekali mengernyitkan dahi saat ada tawaran yang harusnya ditolak, entah baik-baik atau pun terang-terangan. Bisa juga dengan ekspresi sebaliknya. Raut ketus tak bersahabat, kepalang cerewet, atau hal tak nyaman lainnya. Sekelumit ini biasa terjadi saat berinteraksi dengan sopir taksi di manapun. Namun, pernahkah membayangkan ketika sudah berjam-jam menikmati perjalanan, kita baru sadar bahwa sopir taksi yang mengantarkan kita ini adalah seorang penjahat atau narapidana politik?

Read More

Cara Indah Menikmati Hujan di Jakarta

Saat hujan turun, kota ini kerap memainkan sisi melankolisnya.

Selain banjir, apa lagi hal yang sering diingat kala mendung menggantung di langit Jakarta?

Hampir tak bisa dibedakan lagi ketika berangkat dan pulang kerja menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum, kemacetan bukan lagi momok yang menakutkan, tapi sudah jadi kebiasaan yang sudah tak layak untuk dikutuk dan dikeluhkan. Alih-alih mengumpat, yang ada justru malah membuang hal sia-sia. Apakah dengan mengutuk kemacetan lantas jalanan menjadi lancar seketika? Apalagi saat hujan turun di jam pulang kantor, laju akan terhambat karena banyak pengendara yang berteduh di bawah flyover. Jangan pernah bertanya mengapa mereka tak mempersiapkan diri dengan membawa jas hujan misalnya. Si pengemudi mungkin membawanya, tapi yang menumpang tak mau repot-repot karena tujuan mulanya toh hanya sekadar nebeng.

Ada hal yang dapat dinikmati di Jakarta saat hujan turun. Hujan kerap jadi pertanda apa-apa saja yang sedang dirasakan oleh para penghuninya. Suasananya, rintiknya, aromanya, dari air yang luruh dari langit. Kalau sudah seperti ini, Jakarta terkesan melankolis.

Maka dari kaca jendela sebuah kopaja yang berpacu lambat, bayangkan orang-orang di rumah yang sedang menunggu kehadiran kita. Si kecil yang sedang lucu-lucunya. Senyum merekah anak istri, pun pelukan hangat ayah, juga punggung tangan halusnya ibu yang kita cium bersamaan hidangan istimewa yang ia racik dari bilik dapurnya. Atau sekali dua kali libatkan dan larutlah dalam sebuah obrolan urban di mikrolet yang pintunya tertutup karena air yang kian meninggi. Daerah resapan air di kota ini makin hari kian memburuk. Menurut data BNPB, hanya 15% saja kawasan pemukiman di Jakarta yang wilayahnya membiarkan air hujan jatuh langsung meresap tanah.

Pernah pada suatu sore, saya memerhatikan obrolan ibu-ibu dalam sebuah mikrolet M-09 jurusan Tanah Abang-Kebayoran Lama di kala hujan deras. Satu rombongan keluarga yang saya tafsirkan mewakili tiga generasi: seorang nenek, ibu muda paruh baya, dan seorang anak kecil. Mereka berjejer duduk di dekat sopir. Di sudut paling ujung, ada ibu-ibu berpenampilan agak mencolok, dua-duanya berkacamata dengan ragam aksesoris dan tas bermerek. Sementara di depannya nampak seorang ibu hamil. Kelihatan. Sendirian. Di belakangnya lagi, nampak tiga perempuan dari dua generasi: ibu dan dua anak gadisnya yang terlihat panik karena beberapa kali menanyakan alamat pada sopir. Saya sendiri duduk membelakangi sopir. “Ibu mau nyobain? Ambil aja nih gak bayar kok,” terang seorang nenek dari keluarga tiga generasi. Rupanya, ibu hamil di hadapannya beberapa kali melirik jambu air yang sedang asyik dimakan cucu si nenek. Dengan malu, ibu hamil tadi sempat menolak walau akhirnya berujung, “Gak apa-apa nih saya minta?”

Lampu merah menghadang perjalanan di persimpangan Halte Trans Jakarta Slipi Petamburan. Satu persatu penumpang lainnya tiba di tempat tujuan. Dua ibu berpenampilan mencolok itu baru saja turun tak jauh dari seberang sebuah masjid yang mengarah menuju stasiun Palmerah. Sembari membuka payung, mereka sempat berdiskusi kecil sebelum membayar. Klakson mobil di belakang sempat mengundang kemacetan karena dua ibu itu tak ada uang pas, sementara sang sopir punya masalah serupa; tak punya kembalian. Kalau sudah begitu, kepanikan sopir angkot bisa dimaklumi dan jadi jawaban dari pertanyaan lawas, mengapa mereka suka ngetem seenak udel sih? Karena mereka dikejar setoran dan waktu, apalagi jika klakson dari arah belakang makin melengking-lengking. Tak bisa dipungkiri, sulit menerima kenyataan untuk mencegah ruang pribadi dimasuki budaya publik yang tak punya perubahan. Dari dalam mikrolet, ibu yang tengah hamil merogoh kocek dan menemukan empat lembar lima ribuan yang akhirnya ditukarkan pada dua ibu tadi.

Melintas Pasar Palmerah, hujan sudah mulai reda. Gerombolan anak kecil usia sekolah membawa payung menjajakan jasa menghampiri pintu mikrolet. Pak sopir memberhintakan pedagang asongan yang berjalan di depannya untuk memesan dua batang Dji Sam Soe. Laju kembali melambat.

Sepintas kalau dinikmati, hujan di Jakarta selalu mengundang cerita menarik. Bagi adik-adik ojek payung, tentu hujan selalu dinanti. Recehan yang didapat bisa membantu dan meringankan beban hidup orangtua mereka. Namun ada juga yang suka hujan karena menginspirasi untuk update status media sosialnya. Lantas menjadi penyair membayangkan nasib percintaannya.

Seorang kawan pernah berbagi pengalamannya menyoal hujan, “Aku suka hujan. Tapi pas mau menggalau, eh malah berhenti”.

Jakarta sore ini tetap turun hujan dan pantas dinikmati.

Jakarta nan Melankolis; Obrolan Tentang Cuaca dan Rasa

Di satu sore gerimis bulan November, kawasan Jakarta Selatan basah. Beberapa pengendara motor menepi untuk berteduh. “Awet nih kalau hujannya begini,” tutur Pak Gultom, mekanik sekaligus pemilik bengkel yang jaraknya tak jauh di deretan kantor yang ada di Jalan Mohammad Kahfi, Cipedak. Ia sedang membetulkan ban motor saya yang bocor. Beberapa saat sebelumnya, Pak Gultom baru membetulkan kasus yang sama.  “Kupikir yang tadi itu teman kau!” ujarnya dengan logat Batak yang kental.

Lantas saya membuka obrolan tentang cuaca yang ekstrim belakangan ini.  Selanjutnya ia sendiri mulai banyak bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari banjir, kemacetan, hingga suasana politik era 80-an. Ngobrolin soal politik, kondisi Jakarta saat itu sangat rawan dengan premanisme dan permainan para mafia. Korupsi sangat tertutup rapat karena dari satu instansi ke instansi lain selalu ada yang melindungi, siapa lagi kalau bukan yang punya kuasa. “Sekarang ini beda jaman, siapa saja bisa bersuara. Dulu mana bisa kau teriak-teriakin presiden sembarangan. Yang ada malah kau hilang dan tinggal nama,” ujarnya dengan semangat menggebu. Ia sendiri sudah merantau ke Jakarta sejak tahun 1981. Ia bisa saya ajak ngobrol sambil menunggu pekerjaanya usai. Ban motor yang bocor sedang dipanaskan oleh press ban elektrik yang dimilikinya. Hujan belum juga reda. Apa yang dikatakan Pak Gultom benar.

Read More

Nebraska

Berapa kilometer Anda pernah berjalan kaki tanpa arah dan tujuan seorang diri? Saya pernah mencicipinya dari Gelora Bung  Karno hingga depan gedung walikota Jakarta Selatan di sekitar Blok M sana. Juga pernah jalan kaki dari terminal Pondok Kopi hingga Perkampungan Industri Kecil di Penggilingan.  Keduanya dilakukan jelang matahari terbit dan terbenam.  Mulanya memang tanpa tujuan, tetapi dari situlah banyak hal yang saya temui hingga punya keinginan kuat untuk mendokumentasikannya suatu hari lewat tulisan maupun gambar-gambar.

Apa yang saya lakukan berbeda dengan seorang Woody Grant (Bruce Dern), pria berusia 70-an, yang mencoba jalan kaki dari Billings,  Montana, menuju Lincoln, Nebraska, yang jauhnya mencapai 900 miles. Ia sengaja melakukannya demi hadiah lotere bernilai satu juta dollar. Bukan tanpa alasan, keluarganya pasti akan melarang ia bepergian jauh karena faktor usia. Di sinilah segala konflik dimulai.  Keluarganya bahkan sempat merencanakan mengirim Woody ke panti jompo.

Read More

Sol Sepatu

Siapa berani telanjang kaki ke pesta pernikahan mantan atau gebetan?

Sejak awal peradaban, alas kaki memang menjadi penghias, pelindung, juga sebagai penunjuk status sosial seseorang. Sepatu tertua diketahui publik ditemukan di Fort Rock Cave, Oregon, negara bagian Amerika Serikat, pada tahun 1938. Sepatu dengan anyaman sederhana dari jerami tersebut menurut penelitian radio karbon, setidaknya berusia lebih dari 10.000 tahun. Ketika manusia mulai berkembang, mulailah ada penambahan unsur hewan seperti bulu kelinci atau kulit-kulit binatang buas. Ini dipercaya karena sifat magis yang dapat menambah kecepatan dan keberanian pemakainya.

Read More