Blog

Catatan ringan angin-anginan

Nebraska

Berapa kilometer Anda pernah berjalan kaki tanpa arah dan tujuan seorang diri? Saya pernah mencicipinya dari Gelora Bung  Karno hingga depan gedung walikota Jakarta Selatan di sekitar Blok M sana. Juga pernah jalan kaki dari terminal Pondok Kopi hingga Perkampungan Industri Kecil di Penggilingan.  Keduanya dilakukan jelang matahari terbit dan terbenam.  Mulanya memang tanpa tujuan, tetapi dari situlah banyak hal yang saya temui hingga punya keinginan kuat untuk mendokumentasikannya suatu hari lewat tulisan maupun gambar-gambar.

Apa yang saya lakukan berbeda dengan seorang Woody Grant (Bruce Dern), pria berusia 70-an, yang mencoba jalan kaki dari Billings,  Montana, menuju Lincoln, Nebraska, yang jauhnya mencapai 900 miles. Ia sengaja melakukannya demi hadiah lotere bernilai satu juta dollar. Bukan tanpa alasan, keluarganya pasti akan melarang ia bepergian jauh karena faktor usia. Di sinilah segala konflik dimulai.  Keluarganya bahkan sempat merencanakan mengirim Woody ke panti jompo.

Read More

Sol Sepatu

Siapa berani telanjang kaki ke pesta pernikahan mantan atau gebetan?

Sejak awal peradaban, alas kaki memang menjadi penghias, pelindung, juga sebagai penunjuk status sosial seseorang. Sepatu tertua diketahui publik ditemukan di Fort Rock Cave, Oregon, negara bagian Amerika Serikat, pada tahun 1938. Sepatu dengan anyaman sederhana dari jerami tersebut menurut penelitian radio karbon, setidaknya berusia lebih dari 10.000 tahun. Ketika manusia mulai berkembang, mulailah ada penambahan unsur hewan seperti bulu kelinci atau kulit-kulit binatang buas. Ini dipercaya karena sifat magis yang dapat menambah kecepatan dan keberanian pemakainya.

Read More

Dangdut

Musik dangdut mendayu-dayu dari kamar sebelah ketika pagi hampir tiba. Insomnia menghampiri Joni yang terpaksa mengayuh sepeda, lantas singgah di warung kopi. Satu porsi mie goreng ia pesan. Jarum jam berhenti di angka sebelas ketika pedagang nasi goreng melintas. Jalanan di bilangan UI masih basah, sisa hujan semalam menyisakan genangan. Mangkuk yang tadinya berisi bubur kacang ijo nyaris tak tersisa saat saya memerhatikan tingkah Joni dari bangku seberang. Sebatang kretek saya nyalakan, mengepul ke udara malam yang terus beranjak. Masih asyik mengintip Joni dari bilik etalase yang memajang aneka kaleng susu, sate tusuk, juga deretan kerupuk dalam plastik. Lima belas menit sebelumnya saya tiba lebih awal. Entah sejak kapan kebiasaan baru seperti ini hadir. Tidur lebih awal, bangun sebelum dini hari tiba, melipir sejenak ke warung kopi, lantas tidur lagi. Kopi ternyata tak ada kaitannya sama kantuk.

Read More

Ramadan dan Mereka yang Sudah Berpulang

Abukhori terduduk lesu di sudut teras yang berdekatan dengan sebuah toilet. Separuh hari baru saja ia lewati ketika azan zuhur berkumandang dari masjid yang jaraknya 300 meter. Hari begitu menyengat di pertengahan Ramadan ini. Tak ada makan siang, kepulan asap rokok, dan secangkir kopi sebagai pelepas penat sekaligus sumber tenaga baru. Lelap, ia pun tertidur di teras tersebut.

Sudah 25 tahun lebih ia berprofesi sebagai tukang di sebuah klinik swasta di bilangan Bekasi Barat. Jika dikalkulasikan usianya kala itu yang masuk di angka 50, berarti setengah umurnya habis untuk pengabdian dan loyalitas. Siapa yang mengenalnya bakal menyebut kalau ia manusia serba bisa. Ia bisa menginstalasi listrik, pemugar bangunan, peracik arsitektur, bahkan petugas parkir yang handal. Untuk keahliannya yang terakhir ia kerap jalani usai magrib tiba. Kala pengunjung klinik ramai-ramainya.

Read More
Page 2 of 212