Inspirasi Nyata Karya Maurice Leblanc

Maurice Leblanc adalah seorang novelis asal Perancis kelahiran 11 November 1864. Sepanjang karier menulisnya, Leblanc telah melahirkan 60 novel, 21 diantaranya merupakan kisah tentang Arsene Lupin dalam bentuk novel maupun kumpulan cerpen.

Novel pertamanya dipublikasikan tahun 1887, berjudul Une Femme, namun belum mengangkat namanya. Barulah dia dikenal publik saat cerita lepas pertamanya yang memunculkan sosok Arsene Lupin diterbitkan pertama kali di majalah Je Sais Tout edisi 15 Juli 1905. Sosok Arsene Lupin yang ditampilkan sebagai pencuri ulung yang cerdik mendapat sambutan luar biasa dari pembaca.

Sebagai tokoh fiksi, Arsene Lupin merupakan sosok detektif yang dulunya berprofesi sebagai bandit. Karakternya digambarkan sebagai seorang pria genius, humoris, dan cerdas dalam menyelesaikan sebuah kasus. Namun di sisi lain, dia masih sering dicurigai ketika ada satu perampokan besar terjadi.

Read More

Operasi Fortitude: Mengecoh Jerman di Normandia

Kecanggihan teknologi Jerman tak dapat dipungkiri sudah begitu pesat ketika Angkatan Laut mereka menggunakan sandi Enigma pada setiap kapal selamnya. Sehingga pihak Sekutu tidak akan mampu mengetahui, dimana kapal-kapal selam Jerman mengisi bahan bakar, atau pun kapan kapal-kapal itu menyusun strategi penyerangan, pulang ke markas, maupun melakukan penyerangan.

Sandi Enigma bekerja dengan cara mengubah pesan radio menjadi sandi-sandi yang terdiri atas huruf-huruf tak beraturan. Operator penerimanya akan membaca sandi ini di mesin Enigma dan mengubah kembali huruf-huruf kacau ini menjadi teks yang bermakna. Jerman pun yakin Sandi ini akan sulit dipecahkan sekalipun mesin Enigma direbut Sekutu.

Read More

Jejak Mata Pyongyang

Buku ini menceritakan tentang perjalanan Seno Gumira Ajidarma sebagai juri festival film Negara Non Blok dan Berkembang ke-8. Acara rutin 2 tahun sekali ini dilangsungkan di ibukota negara Korea Utara yang kita tahu memiliki paham komunis orthodoks, Pyongyang. Seno tidak banyak menceritakan soal perhelatan festival, tapi lebih menyorot pada keseharian masyarakat Pyongyang, juga warga Korea Utara secara umum. Seno sendiri mengaku agak menyesal karena catatan, yang akhirnya menjadi buku ini, ditulis terlambat 10 tahun. Perlu diketahui bahwa Seno ke Pyongyang hanya 17 hari saja, tepatnya pada tanggal 29 Agustus – 14 September 2002. Latar belakangnya sih karena kematian Kim Jong-iL pada tahun 2011 silam. Saya kurang mendapat informasi lebih jauh mengapa juga kalau catatannya ditulis tahun 2011, buku ini baru terbit 2015.

Dari buku ini saya mengetahui betapa kaku dan terkekangnya orang Korea Utara. Hal ini tak lain karena negara ini punya dasar ideologi Juche yang menyebutkan bahwa manusia adalah tuan dari segala sesuatu yang harus menentukan nasibnya lewat kreativitas dan kesadaran sendiri. Ideologi ini dicetuskan bapak bangsa Korut Kim iL Sung tahun 1955. Kim iL Sung juga merupakan kakek Presiden Korut sekarang, Kim Jong Un. Akibat paham itu, semua yang diucapkan pemimpin bakal jadi sabda. 

Read More

Dan, Saya Telah Menyelesaikan Pertandingan Ini…

Pernahkah terpikirkan bahwa kehidupan yang kita lakoni adalah sebuah pertandingan sepak bola ? Memiliki tujuan untuk menggapai kemenangan, mengorbankan apa yang ada untuk mempertahankan keutuhan sebuah cita-cita, kadang saling sikut menghalalkan segala cara. Tetapi ada juga yang fair play menggunakan text box kehidupan ini lurus pada jalannya mematuhi Law of The Game. Apapun profesi yang dijalani, apapun posisi yang diperankan entah sebagai penjaga gawang, gelandang bertahan, gelandang serang maupun seorang penyerang. Pun begitu, entah pegawai, mandor, manajer, sales, hingga pedagang.

Ronny Pattinsarany adalah sosok yang menjalani permainan ini dengan sempurna, bukan hanya di lapangan hijau. Semangatnya dalam menjalani hidup patut diteladani. Buku setebal 207 halaman ini mengisahkan perjalanan hidup Ronny Pattinsarany sejak kecil hingga akhir hayatnya. Bagaimana ia memulai karir dari nol ketika masuk tim junior PSM atau ketika memutuskan pilihan antara si kulit bundar dan urusan perut serta kecintaannya yang tulus kepada keluarga.

Read More

Semacam Review; 12 Years a Slave

Aku cinta damai, namun aku lebih mencintai kemerdekaan. Kutipan yang pernah saya lihat di sudut Kota Tua beberapa bulan silam kembali terngiang setelah menyaksikan film ini.

Solomon Northup adalah seorang negro bebas. Sedikit bujukan dari dua seniman membuatnya terperosok ke jurang perbudakan. Dalam keadaan mabuk, ia diculik dan diperjualbelikan dengan nama lain, Platt.

Diam-diam Solomon nyaman bertahan menjadi Platt ketika sesama budak negro lainnya, Eliza, selalu menangis dan hampir putus asa karena dipisahkan dari kedua anaknya akibat jual beli budak. Silih berganti, Platt berganti majikan yang digambarkan kaya raya, memiliki banyak budak, dan memiliki perkebunan luas. Platt terus mencari kesempatan yang tepat untuk meyakinkan majikan-majikannya bahwa ia bukanlah seorang budak.

Read More