Dan, Saya Telah Menyelesaikan Pertandingan Ini…

Pernahkah terpikirkan bahwa kehidupan yang kita lakoni adalah sebuah pertandingan sepak bola ? Memiliki tujuan untuk menggapai kemenangan, mengorbankan apa yang ada untuk mempertahankan keutuhan sebuah cita-cita, kadang saling sikut menghalalkan segala cara. Tetapi ada juga yang fair play menggunakan text box kehidupan ini lurus pada jalannya mematuhi Law of The Game. Apapun profesi yang dijalani, apapun posisi yang diperankan entah sebagai penjaga gawang, gelandang bertahan, gelandang serang maupun seorang penyerang. Pun begitu, entah pegawai, mandor, manajer, sales, hingga pedagang.

Ronny Pattinsarany adalah sosok yang menjalani permainan ini dengan sempurna, bukan hanya di lapangan hijau. Semangatnya dalam menjalani hidup patut diteladani. Buku setebal 207 halaman ini mengisahkan perjalanan hidup Ronny Pattinsarany sejak kecil hingga akhir hayatnya. Bagaimana ia memulai karir dari nol ketika masuk tim junior PSM atau ketika memutuskan pilihan antara si kulit bundar dan urusan perut serta kecintaannya yang tulus kepada keluarga.
Didikan keluarga yang keras mengasahnya menjadi pemain sepak bola yang lugas, berdaya, seorang pemimpin dan pemberani. Ketika pencarian jatidirinya menemui titik nadir, Ronny sama halnya dengan remaja pada umumnya pernah pula menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya ketika dihadapakan pada dua pilihan, sekolah atau bermain sepak bola ? Suatu hari nilai rapornya hancur dan ia sadar ini semua karena sepak bola, tetapi tak mau sang ayah melihat nilai rapornya yang hancur itu, maka Ronny pun membuat rapor palsu demi menyelamatkan karir sepak bolanya, entah jika saat itu ketahuan cerita Ronny Pattinasarany sebagai pemain bola mungkin akan lain. Begitu juga saat akan mengikuti kejuaraan Soeratin Cup, sang ayah tidak akan mengijinkannya pergi ke Jakarta jika tidak disertai surat dari kepala sekolah. Ronny pun nekad tengah malam meminta tanda tangan Meneer Runtu, beruntung kepala sekolah Runtu baik hati sehingga Ronny diizinkan ke Jakarta.

Pun ketika prestasinya bersama tim nasional Indonesia, saat bersitegang dengan Ali Sadikin, ketua umum PSSI waktu itu, Ronny tetap nekad membujuk pelatih Wiel Corver bahwa ia masih ada dan belum habis, bahkan saat pelatnas di Lembang ia rela tidur di dalam mobil sementara pemain lain tidur di kamar dengan kasur yang empuk.

Sepak bola Indonesia memang mengalami kejayaannya di era Ronny Pattinsarany, banyak tim-tim dunia yang bertandang ke Jakarta dengan pemain-pemainnya sekelas Pele, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Lev Yashin, Bobby Charlton hingga Ruud Gullit. Ini pula yang menyematkan Indonesia sebagai macan asia.

Menjelang akhir hayatnya, ketegaran hidup Ronny ditunjukkan saat menyelamatkan kedua anaknya sembuh dari narkoba juga saat dokter memvonisnya kanker pada Desember 2007, dokter mengatakan ia hanya akan bertahan hidup dalam sebulan. Toh, Ronny tetap tidak merasa terbebani, bahkan masih bisa bercanda dan menjadi komentator di beberapa kesempatan, juga ia masih sempat memikirkan masa depan sepak bola Indonesia.

Yang menurut saya agak ganjil sebagai olahragawan adalah Ronny Pattinsarany ini perokok berat saat masih aktif sebagai pemain. Kok bisa ya? Dan satu hal lagi, kalimat yang pertama kali selalu saya ingat adalah ketika ia muncul awal-awal ketika Seri A ditayangkan pertama kali di RCTI tahun 90-an, bung Ronny selalu menyebut Juventus dengan lafal Yupentus dan Latcio ketika menyebut Lazio.

Membaca buku ini seperti merangkum sebuah kepingan pilu namun begitu membanggakan, bahwa peran, jabatan atau harta masih bisa hilang, tetapi keluarga harus tetap ada.

You may also like

Leave a comment