Dangdut

Musik dangdut mendayu-dayu dari kamar sebelah ketika pagi hampir tiba. Insomnia menghampiri Joni yang terpaksa mengayuh sepeda, lantas singgah di warung kopi. Satu porsi mie goreng ia pesan. Jarum jam berhenti di angka sebelas ketika pedagang nasi goreng melintas. Jalanan di bilangan UI masih basah, sisa hujan semalam menyisakan genangan. Mangkuk yang tadinya berisi bubur kacang ijo nyaris tak tersisa saat saya memerhatikan tingkah Joni dari bangku seberang. Sebatang kretek saya nyalakan, mengepul ke udara malam yang terus beranjak. Masih asyik mengintip Joni dari bilik etalase yang memajang aneka kaleng susu, sate tusuk, juga deretan kerupuk dalam plastik. Lima belas menit sebelumnya saya tiba lebih awal. Entah sejak kapan kebiasaan baru seperti ini hadir. Tidur lebih awal, bangun sebelum dini hari tiba, melipir sejenak ke warung kopi, lantas tidur lagi. Kopi ternyata tak ada kaitannya sama kantuk.

Joni malam itu tak banyak bicara ketika saya menghampiri. Seperti ada dua hal di raut wajahnya; sedang kesal atau memang ngantuk yang tertahankan. “Tetangga nyetel dangdut bikin gak bisa tidur,” benar saja ia sedang kesal. Saya tak mau membuat mukanya lebih tak mengenakan dengan bertanya, “Apakah musik dangdutnya koplo?”, “Bukan dangdut Bang Haji ya, Jon?”, “Mungkin volumenya keras banget ya, Jon?”, atau “Kok gak nimbrung aja sih, Jon?”

Padahal saya tahu kalau ia adalah pengagum Rhoma Irama. Berkali-kali memergoki Joni dengan earphone yang masih bersenandung lagu-lagu Bang Haji. Menurut Joni, Rhoma Irama merupakan sosok yang tiada duanya dalam urusan dangdut. Sumber inspirasi. Beberapa liriknya merupakan sebuah pengakuan, sebuah inner drama tentang dunianya sendiri. Saya sepakat. Aliran musik yang dibawakan oleh Rhoma Irama seperti halnya lagu “Begadang”, merupakan sebuah medium yang membentuk sebuah pesan tentang sikap seseorang dalam menyikapi berbagai persoalan, politik, sosial, termasuk gaya hidup. Musiknya sangat khas, perpaduan musik Melayu, India, dan rock ala Deep Purple. Kalau ada yang bertanya kapan dangdut naik kelas dan dinikmati semua kalangan? Ya jawabannya ada di era Rhoma Irama.

Meski kini dangdut kembali mendapatkan panggungnya di acara televisi, beberapa penikmatnya mengaku dangdut asli sudah mulai pudar. Beruntungnya ada Dangdut Dorong,- apa istilah yang pas untuk profesi yang menggelutinya?- yang banyak menyapa jalanan Jakarta. Biasanya singgah di rumah-rumah makan dan memutar dangdut asli, kalau tak mau dikatakan lawas, di mana suara gendang dan serulingnya masih nikmat didengar. Saya ingat betul, belum lama ini seorang kawan menyanyikan lagu dangdut di sebuah acara resepsi pernikahan. Padahal beberapa kali melakukan perjalanan dengannya, kawan saya ini kerap memutar lagu-lagu pop kekinian, baik dari penyanyi dalam maupun luar negeri. Sampai sini saya meyakini bahwa pada dasarnya orang-orang begitu menyukai lagu dangdut. Dangdut adalah musik perayaan atas segala sesuatu.

**

Bambang Pamungkas berkaca-kaca sembari merangkul Aeli Aiboy yang baru saja menyarangkan bola ke gawang Arab Saudi. Syamsul Bachri Chaeruddin memenangkan duel dengan tiga pemain Arab Saudi di lini tengah. Bola bergulir dan mendarat di kaki Aiboy. Dengan kecepatan luar biasa ia menggiring si kulit bundar sampai mendekati kotak pinalti. Dua liukan nan mengagumkan mengecoh bek dan kiper Arab yang dijaga Yasser Al Mosailem. Gelora Bung Karno hampir roboh ketika gol itu terjadi. Sembilan puluh ribu orang berjingkrak. Bahkan suara komentator televisi Fox Sport terbenam dalam euforia stadion. Seorang wartawan di pinggir lapangan sampai melakukan selebrasi layaknya Aiboy yang lari mendekati penonton.

Banyak yang tak begitu antusias ketika obrolan menyoal sepak bola. Tapi entah kenapa magnetnya begitu terasa kala tim nasional bermain. Tak terkecuali Joni yang mengalihkan obrolan soal tingkah tetangganya itu dengan membicarakan peluang timnas di semi final kedua Piala AFF. Ia sangat yakin kalau timnas akan juara. “Saya bukan pengamat, jadi gak tahu strategi dan semacamnya. Cuma yakin aja,” terangnya. Ia mengenang baik ketika gol Aeli Aiboy ke gawang Arab Saudi di Piala Asia 2007 silam. “Semua pemain, mainnya kaya kesetanan”.

Hanya dua puluh menit obrolan dengan Joni berlangsung di warung kopi itu. Ia pamit lebih dulu karena harus mempersiapkan rutinitas esok; mengantar minuman botol dan kemasan ke berbagai pelanggan di sekitaran Kukusan, Beji, Depok, dan sekitarnya.

Sebagaimana harapan Joni, timnas akhirnya melangkah ke final. Selangkah lagi, Jon. Dan kalau Indonesia juara, bagaimana kalau kita karaoke dangdut semalam suntuk?

You may also like

Leave a comment