Gue Bukan Aing

Sebuah masa, seperti halnya sebuah tempat, tentu punya bahasa sendiri.  Kata nyokap dan bokap lahir dari bahasa prokem yang punya kaidah menyisipkan “ok” sambil membuang bagian akhir kata. Prokem sendiri adalah arti dari kata preman. Menurut masanya, bahasa gaul ini lahir kisaran tahun 70-an.

Belakangan, di mana arus informasi begitu cepat, istilah-istilah baru pun bermunculan dalam keseharian kita. Media sosial banyak sekali menyumbangkan bahasa baru dalam percakapan verbal. Walau sebagian besar tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku dan terkadang salah kaprah. Ciri utama yang mudah dikenali adalah penghilangan fenom pada sebuah kata, penambahan onomatope, atau bisa berupa singkatan, misalnya yang lagi ngehits: leh uga (boleh juga), warbyasa (luar biasa), atau baper sebagai akronim dari bawa perasaan.

Selain itu ada juga yang menyadur dari frasa yang ditempatkan menjadi sebuah argumen, yang menurut saya agak ngawur. Seorang teman kerap mengatakan kalau ia sering dibilang, “Lu kenapa sih? Lagi PMS ya? ” kalau sedang mengkritik pacarnya, -tentu saja perempuan,  padahal jelas-jelas kawan saya itu seorang perjaka, kok bisa PMS? Atau saya suka heran dengan penempatan “Kurang Piknik” untuk menjatuhkan lawan yang berbeda pendapat. Padahal jika ditelusuri, ungkapan tersebut ditujukan buat mereka yang sering marah-marah, mudah tersinggung, atau untuk menunjukan hal yang dianggap kurang santai. Bagaimana mengatakan orang lain tidak santai, kalau menempatkan istilahnya pun dengan cara yang tidak santai pula.

Ternyata mempelajari bahasa sendiri susahnya minta ampun.

Beberapa tahun lalu, atasan saya di kantor yang lama pernah menerapkan aturan dilarang menggunakan “Elu Gue” dalam obrolan di lingkungan kerja. Saya yang seumur-umur jarang menggunakan kata “aku” merasa geli ketika harus berbicara “Aku Kamu” kepada teman yang sehari-hari biasa minum kopi dan merokok bareng. Syukurlah aturan itu dihilangkan dengan alasan yang pada akhirnya atasan saya pun gelinya ampun-ampunan.  Bayangkan saja ketika saya biasa menanyakan, “Ed, elu udah makan siang belum?” pada sosok Edi yang tidak kemayu itu, harus diganti dengan, “Hai, Edi. Kamu sudah makan siang belum? Barengan sama aku, yuk!”

Sebuah tempat punya bahasa sendiri. Di bilangan kampus UI, ada sebuah grafiti yang menggambarkan kalau di daerah tersebut terdapat kelompok suporter sepak bola. Bunyi tulisannya begini, “GUE BUKAN AING” dengan warna tulisan oren. Tak jauh dari sana, tulisan nama sebuah klub ibukota pun terpampang jelas dekat sebuah rental Play Station. Mulanya tidak ada niatan menelisik lebih jauh menghubungkan dua coretan tersebut. Uniknya, banyak pula penduduk asal Tasikmalaya, Kuningan, Bandung, dan Garut yang kesehariannya akrab dengan kata “Aing”. Mereka berprofesi menjadi tukang cukur, pedagang warung makan, penjual warung kopi, dan jajanan pinggiran. Dalam hal seperti ini, ternyata bahasa atau tulisan sudah berwujud menjadi sebuah identitas dan kebanggaan. Masing-masing menunjukan eksistensi dengan caranya sendiri.  Di sisi lain, coretan “GUE BUKAN AING” semacam nada mengaku-aku-kan bahwa ada yang lebih berhak untuk berkuasa.

Mudah ditebaklah ya, suporter mana yang menulis coretan tersebut?

**

Semacam mengenang J.S Badudu, penjaga bahasa Indonesia yang wafat kemarin, 12 Maret 2016

You may also like

Leave a comment