Iqbal Masih, Martir 3000 Buruh Anak Pakistan

Iqbal Masih lahir di Muridke, sebuah desa kecil yang ada di luar Lahore, Pakistan. Saif Masih, ayahnya lebih dulu meninggal tak lama setelah ia lahir. Dengan begitu, hanya ibunya, Inayat, yang menjadi tulang punggung keluarga yang bekerja menjadi buruh.

Perjuangan hidup dimulai ketika usia Iqbal menginjak empat tahun, bersamaan dengan kakak perempuannya yang akan menikah. Untuk hal ini, tentu saja keluarga harus memiliki uang untuk perayaan. Sebagai keluarga miskin, tak ada cara lain untuk membuat perayaan selain meminjam uang kepada pengusaha lokal. Pihak keluarga kemudian meminjam uang 600 Rupee (sekitar $ 12 kala itu) dari majikan karpet tenun yang ada di Lahore. Karena tidak ada jaminan, pihak keluarga akhirnya menyerahkan Iqbal untuk bekerja sebagai penenun karpet sampai uang tersebut dilunasi. Secara tak langsung, Iqbal telah dijual sebagai budak oleh keluarganya sendiri di usia 4 tahun.

Sistem pinjaman yang diterapkan majikan karpet tersebut tergolong tidak adil. Selama enam tahun berturut-turut, Iqbal bekerja selama enam hari seminggu dengan durasi 14 jam kerja tanpa bayaran sepeser pun selama setahun pertama. Barulah tahun kedua dan seterusnya, ia dapat bayaran 60 Rupee sehari. Semua biaya makan dan inventaris yang dipakai untuk bekerja dikalkulasikan ke dalam pinjaman asli. Bahkan saat ada kelalaian, Iqbal pun sering didenda dan dimasukkan ke dalam uang pinjaman. Belum lagi ada tambahan bunga. Selain itu, keluarga juga masih meminjam uang lainnya ke majikan, sehingga saat Iqbal berusia 10 tahun, total hutang keluarganya mencapai 13.000 Rupee.1

Dalam kultur Pakistan, budaya pinjaman dengan jaminan anak sebagai pekerja ini biasa disebutĀ peshgi. Ia dan buruh lainnya ditempatkan di ruangan pengap. Ruang udara tertutup sengaja agar gulungan wol tetap bagus sebagai standarisasi kualitas karpet. Hanya ada bola-bola lampu yang menggantung di atas kepala mereka. Tak jarang mereka juga diperlakukan kasar. Jika ada yang melamun atau ngobrol saat bekerja, penjaga akan memukulnya, dililitkan ke alat tenun, diisolasi ke tempat gelap, atau diikatkan di atap dengan kondisi badan terbalik. Iqbal paling sering menerima 3 hukuman terakhir.

Satu hari, ia dan beberapa temannya mencoba kabur dan bersembunyi dalam sebuah makam selama 3 hari. Makam tersebut tadinya bekas sumur tua yang tertimbun, sangat gelap, lembab dan licin.2

Hussain Khal, seorang petugas kemudian mengetahui keberadaan mereka dan langsung mengisolasi dan mengikat mereka dengan alat tenun. Saking seringnya dihukum, Iqbal bahkan sering menyeret sebelah kakinya saat berjalan karena sakitnya siksaan. Ini juga memengaruhi perkembangan fisiknya. Iqbal menderita masalah ginjal, tulang belakang melengkung, infeksi bronkial, dan menderita arthritis. Usia 10 tahun, ia bahkan terlihat seperti anak kecil berusia 5 tahun. Cukup pendek.

Bonded Labor Liberation Front (BLLF), sebuah lembaga pembebasan buruh di Pakistan diketahui akan mengadakan pertemuan. Lembaga ini lebih berkonsentrasi dalam pembebasan anak-anak dari kerja paksa dan perbudakan. Iqbal kemudian berencana akan menghadiri pertemuan ini dengan cara kabur dari pekerjaan menenunnya. Dan kali ini ia berhasil. Enam tahun pekerjaannya menenun kini ditanggalkan.

Banyak hal yang didapatkan dalam pertemuan itu, salah satunya mengenai pelarangan peshgi yang dilakukan pemerintah. Dengan begitu, semua hutang majikan karpet secara hukum telah lunas. Iqbal makin bersemangat ketika mengutarakan ingin jadi anak yang bebas kepada ketua BLLF, Ehsan Ullah Khan.

BLLF kemudian membantu Iqbal membuat dokumen-dokumen untuk ditujukan kepada majikan karpet bahwa ia sudah bebas. Dalam kesempatan itu, Iqbal juga ingin teman-temannya yang lain bisa bebas sepeti dirinya.

Iqbal kemudian diberikan bekal kepemimpinan dan ilmu pengetahuan oleh BLLF, sehingga mentalnya semakin terasah. Dia banyak ikut menyuarakan kampanye-kampanye anti perbudakan anak dan menjadi pembicara di seminar-seminar.

Karena semakin dikenal publik, tak jarang Iqbal juga mendapatkan teror dan ancaman pembunuhan. Ada salah satu adegan paling berani yang dia lakukan ketika ia menyamar menjadi buruh anak di suatu pabrik, hanya karena ingin mengetahui kondisi dan tekad anak-anak buruh. Misinya kemudian membuahkan hasil karena informasinya sangat membantu lembaga dan pemerintah dalam membebaskan ratusan anak-anak di pabrik tersebut.

Tahun 1994, Iqbal Masih mendapatkan penghargaan Reebok Human Rights Award di Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam ini, ia mengunjungi Broad Meadows Middle School di Quincy, Massachusetts dan berbicara kepada siswa kelas 7 tentang perjalanan hidupnya.

Ketika para siswa mengetahui kematiannya, mereka memutuskan untuk mengumpulkan donasi dan membangun sebuah sekolah untuk menghormatinya di Pakistan. Penyebab kematian Iqbal mengilhami penciptaan organisasi Free the Children.

Spekulasi kematiannya dilakukan oleh mafia karpet bisa jadi benar jika mengikuti alur kisah Iqbal diatas. Sebanyak 800 pelayat menghadiri pemakamannya pada tanggal 17 April 1995.

Iqbal Masih, bagaimanapun dianggap sebagai legenda karena menjadi martir bagi 3000 anak lainnya yang menjadi korban perbudakan anak di Pakistan.3

Catatan Kaki

  1. The Express Tribune
  2. Lahore City History
  3. Anugerah Dari Langit; 24 Bocah Pemukau Dunia, Ali Zaenal, Vira Luthfia Annisa

You may also like

Leave a comment