Jakarta Kota Tahi

Banyak yang tidak mengetahui bahwa kota lama Batavia sesungguhnya dibangun atas dasar sebuah konsep seorang arsitek bernama Simon Stevin (1548-1620) yang bekerja untuk militer Kerajaan Belanda. Skema ideal, itulah yang dirancang Simon dalam perencanaan tata kota Batavia. Sebagai seorang kepercayaan Prins Maurits, seorang panglima milter Belanda berjuluk Pangeran Oranye, Simon mengawinkan pengetahuan mengenai kota, teknis enjineering yang dikombinasikan dengan ilmu kemiliteran. Konsep ini berpijak pada konsep dasar kota Romawi yang mengandalkan pertahanan dan mobilisasi militer. Simon lantas memadukannya dengan aspek perdagangan dan aspek sipil. Semuanya didesaian secara hirarkis dengan menempatkan aspek-aspek tersebut di wilayah yang strategis. Hal ini pula yang menjadi andalan Kerajaan Belanda dalam membangun kota jajahan lainnya di seluruh dunia seperti di Srilangka dan Suriname. 1

Batavia kemudian dirancang oleh Simon dengan cara seperti negeri asalnya, Belanda, yakni dengan membelah kota menjadi dua bagian dan menemukannya dalam titik lintas pelayaran. Sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit dan tembok yang ditopang oleh benteng-benteng kecil. Di dalamnya terdapat jaringan jalan beserta terusan air yang lurus. Dalam hal ini Ci Liwung yang berkelok kemudian diluruskan menjadi Groote Rivier (Kali Besar) dan memaksa kota menjadi dua bagian, sisi timur dan sisi barat. Namun kota ini jika dilihat dari peta-peta yang ada, tidak berada di garis lurus utara-selatan, tetapi agak melenceng beberapa derajat menjadi timur laut-barat daya.

Batavia dibangun melalui beberapa fase. Fase pertama dari tahun 1619-1627 adalah fase loji benteng. Fase kedua dari tahun 1627-1650 adalah fase perkembangan kota Batavia bagian timur. Fase ketiga dari tahun 1650-1690 adalah fase pembangunan kota Batavia bagian barat. Fase terakhir, tahun 1690-1750 kota Batavia telah mencapai bentuknya yang sempurna, baik bangunan pengisinya maupun pertahanan bentengnya.2

Karena Simon Stevin tidak pernah datang langsung ke Batavia, rancangannya disebut-sebut asal jadi dalam pengerjaannya di lapangan. Menurut Candrian Attahiyat, arkeolog cagar budaya Jakarta, akibat ketidakhadiran langsung sang arsitek, bagian kota di barat Kali Besar tidak simetris dengan kota di sebelah timur.3

Seiring berjalannya waktu, Batavia ternyata menjadi kota yang membutuhkan biaya sangat mahal. Arus pendatang dari berbagai pelosok dan etnis menjadikan Batavia begitu sentris sebagai kota pencaharian. Ini jelas memaksa VOC sebagai pihak yang kurang diuntungkan. Tata kelola kota harus tetap berjalan, ekonomi harus stabil, penduduk harus diberi makan, yang berarti bahan makanan harus diimpor, dan sumber terdekatnya ialah pantai utara Jawa. Untuk perumahan dan kapal, kota ini perlu juga mengimpor kayu.4 Meskipun saat itu status Batavia cenderung aman, namun secara bersamaan bisa saja Mataram dari timur dan Banten dari barat yang diam-diam mulai membenci VOC melakukan serangan. Kesemuanya ini mengandung arti akan ada pengeluaran besar dan mau tak mau melibatkan VOC dalam urusan dalam negeri kerajaan-kerajaan Jawa.

Dan benar saja…

Belanda kemudian kewalahan menghadapi gempuran pasukan Mataram ketika perang meletus dua kali di tahun 1628 dan tahun 1629. Pada bulan September 1628, dalam keadaan terdesak, seorang prajurit VOC asal Jerman, Sersan Hans Madelijn menyelinap ke ruang serdadu membawa kotoran tinja. Kotoran ini jadi pengganti mesiu untuk menyerang prajurit Mataram yang akhirnya berhasil dipukul mundur ke pedalaman Batavia sembari berteriak tak karuan, “Mambet tahi! Mambet tahi!” yang artinya batu tinja.5

“Sebagai usaha terakhir, mereka melemparkan kantong-kantong berisi kotoran yang berbau busuk sekali ke arah orang-orang Jawa, dan sejak saat itulah benteng itu dijuluki dengan nama Kota Tahi,” demikian Thomas Stamford Raffles menceritakan perihal sebutan “Kota Tahi” dalam bukunya yang bertajuk History of Java Volume II.

Menurut Alwi Shahab, dalam beberapa versi, “Mambet Tahi” kerap jadi toponim penamaan Betawi karena kebiasaan lidah lokal yang hobi menyebutkan sesuatu dengan ringkas dan mudah.

Ketika Gunung Salak meletus dahsyat pada tahun 1699, kualitas udara dan lingkungan Batavia menjadi buruk. Berbagai wabah penyakit bahkan menular ke pelosok negeri. Akibatnya orang-orang kaya mulai membuka lahan pemukiman baru di wilayah selatan yang udaranya jauh lebih bersih dan sehat. Beberapa gedung dan pemukiman megah banyak dibangun, seperti di kawasan Molenvliet, antara Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk. Kemudian di Riswijkstraat yang ada di sekitar Jalan Majapahit. Ada juga di kawasan Noordwijk yang kini ada di sekitar Jalan Ir.Juanda. Dan yang paling terkenal dan masih bisa ditemukan jejaknya ada di kawasan Weltevreden yang kini ada di sekitar Gambir Timur.

Soal tahi kemudian kembali mencuat di sekitar abad ke-18 ketika pemerintah Belanda kerepotan mengatasi masalah sampah dan kebersihan. Sistem kakus waktu itu belum dikenal sehingga pada jam-jam dan lokasi tertentu kotoran manusia harus ditampung secara khusus. Biasanya pada jam sembilan malam, para budak akan membuangnya ke kali dan kanal. Kebijakan ini dikenal dengan sebutan Negeenuursbloemen atau “bunga-bunga jam sembilan”. 

Kondisi di tepian Ci Liwung, di sekitar Kebon Pala, Jatinegara

Pemerintah kolonial kemudian membuat jamban umum di beberapa titik agar warga Batavia tidak sembarangan membuang air di Sungai Ci Liwung. Seiring waktu, dengan bertambahnya penduduk, jamban-jamban tersebut tak terawat. Medio 70-an, jamban dan kakus umum ini masih terlihat di sekitar Jalan Gajah Mada, Sawah Besar, juga kawasan Harmoni. Dan kerap digunakan bagi para perampok untuk bersembunyi dari amukan masa. Meski pernah ada penertiban dari Pemda DKI terhadap jamban-jamban tersebut, warga yang sebagian besar para pendatang malah memperluas jamban menjadi hunian yang akhirnya terus berderet-deret hingga kini.6

Batavia Lama sendiri kemudian makin tak terurus. Puncaknya adalah penghancuran Kastil Batavia oleh Gubernur Jenderal H.W Daendels pada tahun 1808. Pusat pemerintahan kolonial kemudian dipindahkan ke Weltevreden. Dengan demikian, Batavia Lama sampai tahap ini sudah bisa disebut sebagai kota yang gagal karena beberapa hal, salah satunya adalah karena penangananan soal tahi.

Begitulah sekelumit kisah bagaimana Jakarta mendapat julukan sebagai Kota Tahi. Padahal kota ini memiliki Sungai Ci Liwungnya yang masyhur. Sungai yang jika diperlakukan layaknya kebaikan alam, sebagai sebuah interaksi pun sebagai sumber ekonomi warganya hingga tetap bisa melahirkan sejarah, kultur, budaya, sosial, politik, kesemuanya tanpa jarak hingga hari ini. Sungai purba yang juga jadi benang merah Ngopi Jakarta setiap kali mengeluyur. Menggaungkan isu-isu sederhana seputar lingkungan,- khususnya banjir, betonisasi sungai dan sampah, termasuk tahi dan jamban- yang juga masih menjadi permasalah paling mutakhir kota ini. Keresahan para penduduk lokal dari Kebon Pala, Jatinegara misalnya, yang terus berjuang mempertahankan ekosistem alamiah sungai ini juga memberi wawasan baru betapa mereka sangat menggantungkan hidupnya pada Ci Liwung. Atau tengok sekilas bagaimana ratusan pedagang kopi keliling di Kwitang, Senen, yang tetap merasa curiga dan begitu berjarak dengan warga kotanya sendiri yang dianggap asing.

Umpatan prajurit Mataram ketika mereka diberondong mesiu berisi kotoran manusia oleh pasukan Belanda sepertinya masih layak digunakan sebagai sebuah adagium; Jakarta emang Kota Tahi! Taik!Taek!

Catatan Kaki

  1. Pengembangan Urban Metropolitan Jakarta: Transportasi dan Adaptasi, Jo Santoso/Miya Irawati
  2. Makalah Ngojak Vol.3: Jakarta; Jejak-Jejak Awal Ibukota, Reyhan Biadilla/Ngopijakarta
  3. Batavia Kota Tiruan yang Terpuruk, Kompas 5 Februari 2018
  4. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, M.C Ricklefs
  5. Prajurit Mataram Juluki Batavia Sebagai “Kota Tahi”
  6. Jakarta Punya Cara, Zeffry J. Alkatiri

You may also like

Leave a comment