Mitologi Optimistis

Kebudayaan itu bukan cuma ‘pameran lukisan’; ngopi juga kebudayaan, karena di sana bukan cuma ada perkara selera. ~ Seno Gumira Ajidarma

Baru-baru ini ada berita tentang seni latte art yang diciptakan dari sebuah mesin, bukan dari racikan jari-jari terampil sebagaimana yang kita kenal selama ini. Uniknya, hasil kreasi mesin tersebut bisa menampilkan hasil yang nyaris sempurna. Pelanggan tinggal menyerahkan foto yang diinginkan, dan dalam sekejap mesin tersebut akan melakukan scanning, lalu ditransfer ke mesin pembuat latte dan jadilah foto dalam kopi.

Mesin tersebut bisa saja dimusuhi siapapun yang berkecimpung di dunia latte art yang mengandalkan ketekunan dan kreasi tangan-tangan brilian. Dengannya, secangkir kopi bisa berhiaskan daun pakis, tokoh kartun, atau wajah sendiri yang terbubuhi busa di atas kopi.

“Sayang banget nih kalo diminum,” celoteh seorang teman ketika ditunjukkan foto latte art yang ada Angry Bird di atas kopi.

Beruntung sekali, kafe dengan mesin latte art tersebut tidak ada di Indonesia. Lebih beruntungnya, saya bukan penikmat kopi dengan ragam variasi dan embel-embel, bahkan warna sekalipun. Bagi saya, kopi adalah hitam. Tentu saja ini soal selera, karena seorang teman pernah berkata bahwa selera tidak bisa diperdebatkan.

***
Di era orde lama, sebagaimana dikisahkan Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir Tempo, Gareng, tokoh dari Solo pernah dipanggil aparat keamanan karena memplesetkan Ganefo (Games of the New Emergency Forces) yang merupakan proyeknya Bung Karno. Gareng memplesetkannya menjadi Ganewul yang artinya segane tiwul (nasinya bukan dari beras, tetapi dari tiwul atau singkong).

Gareng mungkin hanya melucu, tapi dari sisi pemerintah kala itu, guyonannya jelas sebuah kritikan. Pemerintah dianggap tidak becus menyediakan nasi yang sesungguhnya.

Dan kritikan bisa datang dari sudut mana saja.

Di Jakarta, macet yang disebabkan oleh kendaraan pribadi juga dikritik oleh pengguna transportasi umum. Cobalah seminggu dua kali menggunakan angkutan umum. Katanya bisa meminimalisir kemacetan, meski tidak nyaman bagi sebagian orang yang berpandangan bahwa kendaraan pribadilah kendaraan yang paling nyaman untuk digunakan sehari-hari.

“Lho? Iya kan? Kalo naik mobil pribadi kan tinggal duduk. Ada AC lagi,” timpal seorang teman di jejaring sosial.

Di satu sisi, layanan mobil nyaman makin dipermudah. Dengan kredit sampai puluhan tahun sekalipun, sebagian orang ini rela asalkan punya mobil nyaman. Begitu. Bagi mereka angkutan umum seperti mikrolet, kopaja, atau KRL adalah panas, sesak, dan bau. Bahkan sangat rawan dengan pelecehan seksual. Dan bayang-bayang Transjakarta yang meluber di jam masuk dan pulang kantor juga menjadi halusinasi sebagian orang ini sebagaimana mereka membayangkan tentang neraka jahanam.

Padahal kalau melihat sekeliling saja di sekitar transportasi publik, kita bisa melihat sisi lain kota ini. Betapa kita bisa melihat kesabaran mereka yang berdesakan di Stasiun Pondok Kopi. Ibu-ibu yang menaikkan sayurannya hendak ke pasar pagi Petamburan, anak-anak sekolah yang baru pulang dengan seragam putihnya yang dekil akibat debu jalanan di Matraman, tangisan bayi kecil yang memecahkan kemacetan Warung Buncit. Atau melihat remaja yang bercengkrama dengan tawa mereka, mencuri perhatian penumpang lainnya. Atau ada yang pura-pura tak peduli dengan semuanya, memasang playlist kesayangan di gawainya.

Paradigma kopi hitam dan nyamannya kendaraan pribadi bisa jadi hanyalah mitologi optimistis seperti halnya mie instan adalah Indomie, air mineral adalah Aqua, pembalut wanita adalah Softex, prihatin adalah SBY, dan sebagainya-dan sebagainya.

Dan seperti halnya Gareng, saya membaca Jakarta sebagai ruang kelucuan, ruang berkaca diri sekaligus ajang untuk menempa mental paling mujarab sebagaimana uji nyali yang kerap saya lakukan dalam beberapa sore ini; nyeruput kopi basi yang diseduh pagi hari.

You may also like

Leave a comment