Caligula

Buku

“Ingatlah bahwa saya bisa melakukan apa yang saya inginkan kepada siapa pun!” kata Caligula ketika dinasehati oleh Antonia, neneknya, beberapa tahun silam.

Akhir tahun 40, Caligula kembali berada di Roma setelah bepergian ke Campania, wilayah yang ada di selatan Romawi. Kekejamannya menyisakan kebencian di kalangan senat, bangsawan dan rakyat Romawi. Sejak jatuh sakit setelah beberapa bulan kekaisarannya, Caligula dipercaya hilang kesadarannya. Ia selalu angkuh di hadapan siapa pun. Caligula menjadi terlalu percaya diri, dan takut akan kehilangan tahta. Ia juga selalu gegabah dalam mengambil keputusan. Apalagi ketika Gemellus juga merupakan pewaris bersama yang diberikan oleh Tiberius. Menurut Suetonius, ada satu sifat dalam dirinya yang disebut “keberanian yang lancang”

Sifat inilah yang menjadikan pikirannya untuk membunuh orang yang dia inginkan. Kekejamannya sering ia perlihatkan di hadapan publik. Bahkan ketika makan sekalipun, Caligula masih menikmati sebuah penyiksaan. Ia takut tentang adanya konspirasi politik. Konspirasi seperti ini cenderung sulit ditebak yang melibatkan berbagai individu dengan tujuan dan ambisi berbeda. Mereka bisa bersatu hanya dengan tekad yang sama, menyingkirkan sang penguasa yang dianggap lalim, sebagaimana terjadi pada Julius Caesar yang melibatkan lebih dari enam puluh konspirator. Menanggapi hal ini, Caligula melakukan pembersihan konspirator, terutama dari kalangan senat dan konsul.

Sextus Papinus misalnya, seorang anggota senat disiksa sampai mati oleh Caligula. Meski ia telah mengaku terlibat konspirasi dan dijerumuskan oleh anggota senat lain, Caligula tak memberinya ampun. Hal yang sama terjadi kepada Betilienus Bassus, seorang quaestorship. Ketika akan dieksekusi, Caligula mengundang ayahnya dan memerintahkan untuk menyaksikan eksekusi. Ayah Bassus tak tega, ia minta izin untuk menutup matanya. Tetapi Caligula langsung mengancam akan membunuhnya, kecuali membantu membocorkan nama-nama lain yang terlibat. Beberapa orang Praetorian kemudian disebutkan dan Caligula memerintahkan mengeksekusinya segera.

Korban lainnya ialah Julius Canus, seorang filsuf yang berpandangan bahwa kehidupan masyarakat akan tertib jika dipimpin oleh seseorang yang memiliki kebijakan memihak rakyat. Ia juga menyebutkan bahwa sistem monarki bisa saja berjalan selama sang pemimpin berlaku adil dalam segala hal. Caligula sering berdebat panjang dengan Canus soal hal ini.

Sampai akhirnya Canus diperintahkan untuk dieksekusi. Tetapi Canus saat itu mengatakan, “Terima kasih, Kaisar sangat baik.”

Sepuluh hari kemudian, Caligula mengeksekusinya.

Arena teater yang megah pernah menjadi saksi kebrutalannya. Seorang aktor yang tidak disukainya tiba-tiba saja diolok-olok. Caligula naik ke panggung, lalu berdiri di depan patung Jupiter dan bertanya kepada aktor tersebut, “Mana yang lebih baik dari kami berdua?”

Saat aktor itu ragu-ragu memberikan jawaban, Caligula langsung memerintahkan pengawalnya untuk menyiksa sang aktor dengan cambukan. Ketika aktor itu meminta belas kasihan, Caligula malah memakinya dengan memerintahkan iringan musik mengiringi setiap ucapannya.

Begitu juga arena gladiator, Caligula pernah mempertontonkan kebengisan. Korbannya saat itu adalah Aesius Proculus, anak seorang primipilaris. Tiba-tiba Caligula menunjuknya ke amfiteater agar diseret ke arena. Ia diadu dengan dua petarung bersenjata tajam. Meski ia memenangkan dua pertarungan itu, Caligula menyuruhnya diarak ke kota dengan pakaian compang-camping. Setelah diejek khalayak, Proculus malah digantung atas perintahnya.

Di hari lain, ia turun ke arena gladiator dan pura-pura bertarung dengan seorang prajurit dengan menggunakan pedang kayu. Ketika si prajurit terjatuh, Caligula malah menarik pisau sungguhan dan menikamnya sampai roboh. Ia kemudian berlarian di arena dan melambai-lambaikan daun palma sebagai tanda kemenangan.

Caligula akan menemukan alasan atas setiap tindakannya, bahkan hanya karena rasa iri maupun cemburu. Untuk hal ini, Raja Ptolemy dari Mauritania adalah korbannya. Ia merupakan salah satu pemimpin yang bijaksana. Selama memerintah, ia banyak menciptakan kesejahteraan di wilayahnya. Ptolemy juga masih satu klan keluarga Julio-Caludian karena merupakan keturunan Cleopatra dari Mark Anthony. Secara tak langsung, Ptolemy juga masih sepupuan dengan Caligula.

Suatu hari, Ptolemy diundang ke Roma oleh Caligula. Sambutan yang luar biasa mengiringi kunjungannya itu. Banyak rakyat Roma yang sudah mendengar kisah tentang kebijaksanaannya. Bahkan saat menonton gladiator bersama Caligula, Ptolemy dikagumi karena pakaian jubah ungunya yang mengundang wibawa. Caligula pun merasakan iri terhadap Ptolemy atas perlakuan yang diterimanya.  Tak lama setelah itu, ia pun langsung memerintahkan para penjagalnya untuk mengeksekusi mati.

Sampai beberapa tahun, rakyat Mauritania memberontak kepada Romawi atas tindakan Caligula tersebut.

Caligula menjadi sangat terkenal di seantero Roma. Sekumpulan tawanan dihukum begitu saja tanpa melalui persidangan dan alasan yang jelas.  Ketika harga daging sangat mahal, ia memerintahkan beberapa tawanan dijadikan santapan binatang buas dalam sebuah pertunjukkan.

Ia berdiri dalam barisan para tawanan dan langsung memberi perintah, “Bunuh semua orang antara si Botak itu dan si Botak yang ada di sebelah sana!”

“Buat dia merasa seperti apa rasanya sekarat!” adalah perintah populer yang selalu diucapkannya ketika akan mengeksekusi korban.