Jakarta, Kota Sungai Ramah Air

Videography

 

Jakarta itu kompleks. Lahir dari sejarah yang begitu panjang. Lahir dari peradaban sungai purba yang begitu identik dan masyhur, Ciliwung. Dialiri 13 sungai dan dibelah tepat di jantungnya oleh Sungai Ciliwung, yang awalnya merupakan pusat perkembangan peradaban, Jakarta tak ubahnya bagaikan kampung halaman besar bagi siapapun. Jutaan asa bersandar kepada Jakarta, dengan status satu-satunya kota di Indonesia setingkat provinsi, kemegahan kota ini menarik populasi setiap tahunnya. Semacam hipnotis yang terus mempengaruhi cara pikir orang-orang, bahwa Jakarta akan senantiasa berlaku adil. Entah kapan dan seperti apa wujudnya. Terus ditanamkan pada generasi selanjutnya, bahwa kampung besar ini akan lebih baik dari tempat lain manapun.

Meski dihinggapi matahari yang terik, setiap sudut Jakarta kerap menyediakan berbagai kisah menarik. Melihat orang-orang di jalanan dengan ragam ekspresi dan anomali. Bergerak mengikuti ruang, waktu, dan kuasa. Merekam hubungan rapuh antara peradaban manusia dengan lingkungannya.

Jakarta di malam hari tak pernah senyap dari deru-deru mesin dan klakson yang terus melengking-lengking. Proyek-proyek pelayanan publik menyebabkan kemacetan dimana-mana. Upaya revitalisasi pemukiman ke kawasan yang lebih baik dan komprehensif terus dilakukan agar tak mengkhianati lingkungan. Orang-orang pulang dimakan waktu dan kesabaran dituntut makin tinggi. Namun, meski dalam kondisi yang sangat banal, Jakarta kerap menampilkan sesuatu yang indah.

Demi kebaikan hari anak cucu mendatang, masih banyak yang tak memilih berhenti untuk memantaskan diri, hingga nantinya sejarah kembali mencatat, bahwa kota ini juga mampu menyetarakan diri dengan kota-kota besar dunia yang masyhur dan beradab. Mengembalikan kejayaan Queen of The East seperti abad ke-17 silam, yang pernah membuat dunia berdecak kagum saat melihatnya.

Jakarta, menjadi kota sungai ramah air, dengan segala pendukung lansekap yang menyejukkan mata, dan menenangkan hati tentunya.