Ritual Pagi

04:25 pagi saya melirik jam di ponsel, masih dalam kantuk yang tertahan. Lalu melangkah menuju sebuah tempat yang tentunya tidak asing lagi. Kemudian ruangan itu saya tutup daun pintunya “Breaakkk!!”

Apa yang saya lakukan di dalam ruangan ini tidak pernah ada yang tahu. Tidak seorang pun, kecuali Tuhan Yang Maha Pemurah. Ruangan itu pengap, tidak ada jendela sama sekali. Ada celah udara di pojok kanan, namun tertutup sebuah kardus. Semoga saja tidak ada yang mengintip. Inilah tempat ritual saya yang sangat rahasia. Tempat di mana segala ekspresi dan perasaan bisa ditumpahkan tanpa beban.

Samar corong speaker masjid mulai terdengar dari jauh.

Dan pagi ini, ritual itu dimulai tentang cerita tadi malam. Posisi saya mulai dengan erangan seperti menahan sesuatu sambil membayangkan kembali ingatan tadi malam. Menatap langit-langit ruangan, ada lakban hitam di antara bola lampu. Saya sempat membayangkan itu adalah sebuah CCTV. Tapi bukankah ini ruangan rahasia? Mana mungkin segala sesuatu bisa diketahui tanpa permisi?

Beberapa orang mengeroyok saya setelah main futsal. Satu di antara mereka memukul dengan sepatunya. Saya sendirian, lalu mengambil langkah seribu meninggalkan arena. Biarlah sekali-kali menjadi pengecut. Saya menceritakan ini sambil tetap dalam posisi seperti pertama kali datang ke ruangan rahasia ini. Jongkok.

Masih dalam posisi jongkok, tiba-tiba ada tetesan air dari atap yang dilakban dalam ruangan rahasia ini. Air apakah gerangan? Sementara posisi tidak bergerak meski beberapa kali tetesan air terus menetes karena memang inilah aturan yang harus dijalankan dalam ritual ini. Tetesan air itu mulai mengenai rambut, lutut dan punggung kaki. Biarkan saja, toh baunya sama sekali tidak menyiratkan sebuah kelainan. Saya masih yakin jika di sekitar sini tidak ada yang memelihara binatang. Waktu terus bergulir, saya semakin khusyuk dalam sebuah ritual. Setidaknya dalam seminggu, tiga sampai empat kali melakukannya saban pagi.

Saya kemudian mulai bercerita kembali tentang kejadian tadi malam.

Masih lari terengah dan terjebak dalam sebuah hutan, bukan hutan pinus seperti cerita horor dan film-film itu. Di hutan tersebut, kemudian ada bayangan tubuh besar dan hendak mencengkram. Wajahnya legam dengan taring tajam, sekilas mirip vampir sexy Jenny Wright. Ketika hendak berteriak minta tolong, saya malah terperanjat.

Setengah menunduk, kemudian saya berkata kepada sebuah benda yang menemani ritual saya pagi ini.

“Set, saya malam tadi mimpi buruk, kawan.”

Kloset hanya terdiam, wajahnya pucat dan hari pun beranjak siang.

You may also like

Leave a comment