Semacam Review; 12 Years a Slave

Aku cinta damai, namun aku lebih mencintai kemerdekaan. Kutipan yang pernah saya lihat di sudut Kota Tua beberapa bulan silam kembali terngiang setelah menyaksikan film ini.

Solomon Northup adalah seorang negro bebas. Sedikit bujukan dari dua seniman membuatnya terperosok ke jurang perbudakan. Dalam keadaan mabuk, ia diculik dan diperjualbelikan dengan nama lain, Platt.

Diam-diam Solomon nyaman bertahan menjadi Platt ketika sesama budak negro lainnya, Eliza, selalu menangis dan hampir putus asa karena dipisahkan dari kedua anaknya akibat jual beli budak. Silih berganti, Platt berganti majikan yang digambarkan kaya raya, memiliki banyak budak, dan memiliki perkebunan luas. Platt terus mencari kesempatan yang tepat untuk meyakinkan majikan-majikannya bahwa ia bukanlah seorang budak.

Bertahan hidup bukan berarti segalanya akan segera berakhir tragis. Platt pernah mendapatkan majikan yang baik. Sayangnya ada saja anak buah majikan yang iri akan kedekatan Platt, sampai akhirnya jatuh kepada majikan kejam, Edwin Epps. Di sinilah setengah durasi film ini disuguhkan.

Meski religius, Epps merasa tak mengenal dosa. Beberapa perbuatan asusila dilakukan terhadap budak perempuannya. Ia juga menganggap budak sebagai barang milik. Siapa saja yang jadi tuannya, boleh memperlakukan sesuka hati. Momen paling epik adalah saat Platt mencoba menulis surat dari air sisa buah strawberry yang dimakannya. Ia membuat pena dari kayu. Saat yang lain tertidur lelap, ia pergi ke hutan. Air strawberry itu dihangatkannya dan dijadikan tinta. Kemudian ditulisnya surat untuk dikirimkan. Meski sempat gagal karena penulisan suratnya dilaporkan, Platt akhirnya bertemu dengan pekerja asal Kanada, Bass, yang diperankan oleh Brad Pitt.

Film yang diadaptasi dari kisah nyata dan novel karya Solomon sendiri ini baiknya ditonton sendirian. Karena di beberapa adegan bakal disuguhkan momen yang membuat air mata mengalir sendiri. Kesimpulan; saya hanya sepakat dengan pertanyaan yang diajukan Bass kepada Epps, “Di mata Tuhan, apa bedanya hitam dan putih? Apa bedanya miskin dan kaya?”

Ya, masing-masing dari kita bebas menjawab sendiri-sendiri dari pertanyaan Bass, lalu menafsirkannya dalam keseharian kita.

Sumber gambar: Fox Search Light 

You may also like

Leave a comment