Sepak Bola Dalam Sunyi

Memasuki menit ke-87, disaat waktu sangat genting dan krusial, sebuah serangan balik yang dilakukan kesebelasan Palestina dari sayap kanan Israel melalui Yahiya Hamid hampir saja menaklukkan penjaga gawang Brehima Struth. Dari sinilah semuanya terjadi.

“Umpan jauh!” Teriak Mujid Hasyim di dalam kotak 16.

Tidak berapa lama, striker itu pun terjatuh di area terlarang. Wasit pun menunjuk titik putih.

Perempat final Piala Dunia 2030 di Jakarta itu sungguh dramatis. Aku termasuk beruntung masih diberikan kesempatan menikmati pagelaran paling akbar sejagad ini. Mimpi pun sama sekali tak pernah ada untuk hadir langsung di stadion megah ini. Aku hadir bersama Widi dan istriku.

Stadion Gelora 58 ini mampu menampung sekitar 60.000 penonton. Arsitekturnya cukup menakjubkan dengan tribun mengerucut mirip sebuah candi. Penamaannya sendiri merupakan penghormatan kepada nama pelatih timnas dulu, Tony Poganik yang sukses menjadikan timnas menjadi macan Asia di masanya. Puncaknya ketika menahan imbang Uni Sovyet di ajang Olimpiade Melbourne tahun 1958. Dulu stadion ini milik PERSITARA, sebelum klub itu dijual dan kini bermarkas di Aceh. Kesimpulanku satu, sepak bola di negeri ini selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau politik pada situasi-situasi tertentu.

Meskipun kapasitasnya lebih kecil dari Gelora Bung Karno, terbukti stadion inilah yang terpilih menjadi partai perempat final dan final bulan Juli nanti. Sementara Gelora Bung Karno hanya mendapatkan jatah penyisihan saja.
***
Sore itu cuaca Jakarta agak panas. Aku terpaksa menyalakan pendingin ruangan. Istriku sedang memasak ketika Widi pulang sekolah. Tuan rumah sendiri dihentikan lajunya oleh Myanmar sehari sebelum partai Palestina – Israel tadi malam.

Dari dulu, aku tidak pernah mencaci tim nasional. Bukankah mimpi kembali ke pentas dunia telah tercapai? Dan aku tahu, tim nasional pertama kali tampil di Piala Dunia 1938, jauh sebelum Brazil muncul dengan gaya samba-nya, rentan yang panjang menunggu Inggris menemukan kick and rush-nya. Tetapi mengapa malam naas itu harus bertekuk lutut pada Myanmar? Bukan Argentina atau Jerman?

Dan pertandingan tadi malam, aku tiba-tiba melupakan kekalahan itu. Palestina begitu memukau.

“Tahu enggak partai semalam itu berbuntut panjang lho?” kata Widi, cucu perempuanku yang menginjak remaja.

Widi kemudian bercerita, usai Palestina mengalahkan Israel 2-1, peperangan kembali terjadi di kawasan Timur Tengah setelah perdamaian cukup panjang terjadi selama 25 tahun.

“Bahkan PBB berencana melarang olahraga ini dalam waktu dekat untuk selamanya,” katanya sambil mengekspresikan kedua tangan layaknya komentator di televisi.

Aku yang duduk di sebelah kiri istriku sama sekali tidak percaya dengan ucapan cucuku itu.

“Mana mungkinlah Wid, sepak bola itu sudah terlalu banyak menyumbang untuk kebaikan,” ketusku singkat.

Aku memang hidup dari sepakbola. Widi merupakan cucuku semata wayang. Aku menurunkan bakat kepada ayahnya yang masih aktif di lapangan hijau. Ia membela klub dari Sumatera dan menetap di sana selama 5 tahun hingga masa kontraknya habis tahun depan.

Gaji pemain di sini termasuk lumayan, hampir setara dengan gaji Menteri. Jadi cukuplah anakku satu-satunya itu membiayai hidupku. Sementara istrinya pegawai kantoran sebuah Pemda dan banyak membantu pendanaan klub PERSIB selama beberapa dekade sebelum pemerintah melarang dana APBD yang heboh itu. Mereka kerap menjenguk kami sebulan sekali.

Ketika masih bermain dulu, aku sering keluar masuk tim nasional dan malang melintang di beberapa klub kenamaan. Cedera engkelku yang berkepanjangan membuatku terpaksa gantung sepatu.

“Ini! Pakailah untuk pengabdianmu!” kata pengurus badan sepakbola sambil menyerahkan sebuah cek dengan nominal 720 juta rupiah. Aku sempat menangis sambil berbaring di rumah sakit. Dan memang, cederaku cukup panjang hingga menamatkan karirku selama 29 tahun. Uang itu kemudian aku pakai untuk mendanai sebuah sekolah sepakbola yang aku kelola.

Tetapi kini ucapan Widi ternyata benar. Sepak bola merupakan olahraga terlarang.

“Ya Tuhaan!” gumamku ketika melihat tayangan berita di televisi yang menampilkan sekjen PBB sedang membacakan sebuah resolusi baru. Rilis ini juga begit ramai di jagad medis sosial sampai berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Beberapa hari setelah resolusi itu, anakku yang merumput di Sumatera pun pulang dengan wajah murung. Ia merangkulku dan menangis.

“Klub akan dibekukan. Mungkin sebentar lagi akan dibubarkan,” keluhnya dengan mata sembab.

Aku pun tak bisa berbuat banyak.

Sementara berita di mana-mana, demontrasi besar-besaran di seluruh dunia seperti di Madrid, Milan, Barcelona, Paris pun hingga Tokyo dan Bangkok berlangsung ricuh. Stadion-stadion megah pun dihancurkan. Bahkan Piala Dunia yang sedang berlangsung di Jakarta pun urung dilanjutkan.

Sepak bola berada dalam kesunyian.

*

Kalimalang, 1 Februari 2008

You may also like

Leave a comment