Jejak Mata Pyongyang

Buku ini menceritakan tentang perjalanan Seno Gumira Ajidarma sebagai juri festival film Negara Non Blok dan Berkembang ke-8. Acara rutin 2 tahun sekali ini dilangsungkan di ibukota negara Korea Utara yang kita tahu memiliki paham komunis orthodoks, Pyongyang. Seno tidak banyak menceritakan soal perhelatan festival, tapi lebih menyorot pada keseharian masyarakat Pyongyang, juga warga Korea Utara secara umum. Seno sendiri mengaku agak menyesal karena catatan, yang akhirnya menjadi buku ini, ditulis terlambat 10 tahun. Perlu diketahui bahwa Seno ke Pyongyang hanya 17 hari saja, tepatnya pada tanggal 29 Agustus – 14 September 2002. Latar belakangnya sih karena kematian Kim Jong-iL pada tahun 2011 silam. Saya kurang mendapat informasi lebih jauh mengapa juga kalau catatannya ditulis tahun 2011, buku ini baru terbit 2015.

Dari buku ini saya mengetahui betapa kaku dan terkekangnya orang Korea Utara. Hal ini tak lain karena negara ini punya dasar ideologi Juche yang menyebutkan bahwa manusia adalah tuan dari segala sesuatu yang harus menentukan nasibnya lewat kreativitas dan kesadaran sendiri. Ideologi ini dicetuskan bapak bangsa Korut Kim iL Sung tahun 1955. Kim iL Sung juga merupakan kakek Presiden Korut sekarang, Kim Jong Un. Akibat paham itu, semua yang diucapkan pemimpin bakal jadi sabda. 

Read More