sepak bola

Sepak Bola dan Ingatan Masa Kecil

Setiap melintas jalur menuju jalan Montong di daerah Jagakarsa, saya selalu menoleh anak-anak yang sedang bermain bola yang ada di jalan Sadar Raya. Lapangan bersemen ini seukuran lapangan futsal, lumayan terawat rapi. Sesekali pernah berhenti mengamati mereka yang tengah menikmati permainan. Seorang anak bernama Bayu dari jauh disebut-sebut oleh anak berusia; kurang lebih 12 tahun. Mereka sebaya. Anak itu selalu berteriak meminta umpan setiap Bayu mengendalikan bola. Melihat mereka bermain (di manapun), saya selalu bermimpi anak-anak ini suatu hari akan menjadi pemain yang hebat.

Dan saya teringat masa kecil…

Read More

Dan, Saya Telah Menyelesaikan Pertandingan Ini…

Pernahkah terpikirkan bahwa kehidupan yang kita lakoni adalah sebuah pertandingan sepak bola ? Memiliki tujuan untuk menggapai kemenangan, mengorbankan apa yang ada untuk mempertahankan keutuhan sebuah cita-cita, kadang saling sikut menghalalkan segala cara. Tetapi ada juga yang fair play menggunakan text box kehidupan ini lurus pada jalannya mematuhi Law of The Game. Apapun profesi yang dijalani, apapun posisi yang diperankan entah sebagai penjaga gawang, gelandang bertahan, gelandang serang maupun seorang penyerang. Pun begitu, entah pegawai, mandor, manajer, sales, hingga pedagang.

Ronny Pattinsarany adalah sosok yang menjalani permainan ini dengan sempurna, bukan hanya di lapangan hijau. Semangatnya dalam menjalani hidup patut diteladani. Buku setebal 207 halaman ini mengisahkan perjalanan hidup Ronny Pattinsarany sejak kecil hingga akhir hayatnya. Bagaimana ia memulai karir dari nol ketika masuk tim junior PSM atau ketika memutuskan pilihan antara si kulit bundar dan urusan perut serta kecintaannya yang tulus kepada keluarga.

Read More

Gue Bukan Aing

Sebuah masa, seperti halnya sebuah tempat, tentu punya bahasa sendiri.  Kata nyokap dan bokap lahir dari bahasa prokem yang punya kaidah menyisipkan “ok” sambil membuang bagian akhir kata. Prokem sendiri adalah arti dari kata preman. Menurut masanya, bahasa gaul ini lahir kisaran tahun 70-an.

Belakangan, di mana arus informasi begitu cepat, istilah-istilah baru pun bermunculan dalam keseharian kita. Media sosial banyak sekali menyumbangkan bahasa baru dalam percakapan verbal. Walau sebagian besar tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku dan terkadang salah kaprah. Ciri utama yang mudah dikenali adalah penghilangan fenom pada sebuah kata, penambahan onomatope, atau bisa berupa singkatan, misalnya yang lagi ngehits: leh uga (boleh juga), warbyasa (luar biasa), atau baper sebagai akronim dari bawa perasaan.

Read More