urban

Mitologi Optimistis

Kebudayaan itu bukan cuma ‘pameran lukisan’; ngopi juga kebudayaan, karena di sana bukan cuma ada perkara selera. ~ Seno Gumira Ajidarma

Baru-baru ini ada berita tentang seni latte art yang diciptakan dari sebuah mesin, bukan dari racikan jari-jari terampil sebagaimana yang kita kenal selama ini. Uniknya, hasil kreasi mesin tersebut bisa menampilkan hasil yang nyaris sempurna. Pelanggan tinggal menyerahkan foto yang diinginkan, dan dalam sekejap mesin tersebut akan melakukan scanning, lalu ditransfer ke mesin pembuat latte dan jadilah foto dalam kopi.

Mesin tersebut bisa saja dimusuhi siapapun yang berkecimpung di dunia latte art yang mengandalkan ketekunan dan kreasi tangan-tangan brilian. Dengannya, secangkir kopi bisa berhiaskan daun pakis, tokoh kartun, atau wajah sendiri yang terbubuhi busa di atas kopi.

“Sayang banget nih kalo diminum,” celoteh seorang teman ketika ditunjukkan foto latte art yang ada Angry Bird di atas kopi.

Beruntung sekali, kafe dengan mesin latte art tersebut tidak ada di Indonesia. Lebih beruntungnya, saya bukan penikmat kopi dengan ragam variasi dan embel-embel, bahkan warna sekalipun. Bagi saya, kopi adalah hitam. Tentu saja ini soal selera, karena seorang teman pernah berkata bahwa selera tidak bisa diperdebatkan.

Read More

Cara Indah Menikmati Hujan di Jakarta

Saat hujan turun, kota ini kerap memainkan sisi melankolisnya.

Selain banjir, apa lagi hal yang sering diingat kala mendung menggantung di langit Jakarta?

Hampir tak bisa dibedakan lagi ketika berangkat dan pulang kerja menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Kemacetan bukan lagi  jadi momok yang menakutkan, tapi sudah jadi kebiasaan yang sudah tak pantas lagi untuk dikutuk dan dikeluhkan. Alih-alih mengumpat, yang ada justru malah membuang hal sia-sia. Apakah dengan mengutuk kemacetan lantas jalanan menjadi lancar seketika? Apalagi saat hujan turun di jam pulang kantor, laju akan terhambat karena banyak pengendara yang berteduh di bawah flyover. Jangan pernah bertanya mengapa mereka tak mempersiapkan diri dengan membawa jas hujan misalnya. Si pengemudi mungkin membawanya, tapi yang menumpang tak mau repot-repot karena tujuan mulanya toh hanya nebeng doang.

Ada hal yang dapat dinikmati di Jakarta saat hujan turun. Hujan kerap jadi pertanda apa-apa saja yang sedang dirasakan oleh para penghuninya. Suasananya, rintiknya, aromanya, dari air yang luruh dari langit. Kalau sudah seperti ini, Jakarta nampak melankolis.

Read More

Jakarta nan Melankolis; Obrolan Tentang Cuaca dan Rasa

Di satu sore gerimis bulan November, kawasan Jakarta Selatan basah. Beberapa pengendara motor menepi untuk berteduh. “Awet nih kalau hujannya begini,” tutur Pak Gultom, mekanik sekaligus pemilik bengkel yang jaraknya tak jauh di deretan kantor yang ada di Jalan Mohammad Kahfi, Cipedak. Ia sedang membetulkan ban motor saya yang bocor. Beberapa saat sebelumnya, Pak Gultom baru membetulkan kasus yang sama.  “Kupikir yang tadi itu teman kau!” ujarnya dengan logat Batak yang kental.

Lantas saya membuka obrolan tentang cuaca yang ekstrim belakangan ini.  Selanjutnya ia sendiri mulai banyak bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari banjir, kemacetan, hingga suasana politik era 80-an. Ngobrolin soal politik, kondisi Jakarta saat itu sangat rawan dengan premanisme dan permainan para mafia. Korupsi sangat tertutup rapat karena dari satu instansi ke instansi lain selalu ada yang melindungi, siapa lagi kalau bukan yang punya kuasa. “Sekarang ini beda jaman, siapa saja bisa bersuara. Dulu mana bisa kau teriak-teriakin presiden sembarangan. Yang ada malah kau hilang dan tinggal nama,” ujarnya dengan semangat menggebu. Ia sendiri sudah merantau ke Jakarta sejak tahun 1981. Ia bisa saya ajak ngobrol sambil menunggu pekerjaanya usai. Ban motor yang bocor sedang dipanaskan oleh press ban elektrik yang dimilikinya. Hujan belum juga reda. Apa yang dikatakan Pak Gultom benar.

Read More

Sol Sepatu

Siapa berani telanjang kaki ke pesta pernikahan mantan atau gebetan?

Sejak awal peradaban, alas kaki memang menjadi penghias, pelindung, juga sebagai penunjuk status sosial seseorang. Sepatu tertua diketahui publik ditemukan di Fort Rock Cave, Oregon, negara bagian Amerika Serikat, pada tahun 1938. Sepatu dengan anyaman sederhana dari jerami tersebut menurut penelitian radio karbon, setidaknya berusia lebih dari 10.000 tahun. Ketika manusia mulai berkembang, mulailah ada penambahan unsur hewan seperti bulu kelinci atau kulit-kulit binatang buas. Ini dipercaya karena sifat magis yang dapat menambah kecepatan dan keberanian pemakainya.

Read More

Dangdut

Musik dangdut mendayu-dayu dari kamar sebelah ketika pagi hampir tiba. Insomnia menghampiri Joni yang terpaksa mengayuh sepeda, lantas singgah di warung kopi. Satu porsi mie goreng ia pesan. Jarum jam berhenti di angka sebelas ketika pedagang nasi goreng melintas. Jalanan di bilangan UI masih basah, sisa hujan semalam menyisakan genangan. Mangkuk yang tadinya berisi bubur kacang ijo nyaris tak tersisa saat saya memerhatikan tingkah Joni dari bangku seberang. Sebatang kretek saya nyalakan, mengepul ke udara malam yang terus beranjak. Masih asyik mengintip Joni dari bilik etalase yang memajang aneka kaleng susu, sate tusuk, juga deretan kerupuk dalam plastik. Lima belas menit sebelumnya saya tiba lebih awal. Entah sejak kapan kebiasaan baru seperti ini hadir. Tidur lebih awal, bangun sebelum dini hari tiba, melipir sejenak ke warung kopi, lantas tidur lagi. Kopi ternyata tak ada kaitannya sama kantuk.

Read More