urban

Jakarta Kota Tahi

Banyak yang tidak mengetahui bahwa kota lama Batavia sesungguhnya dibangun atas dasar sebuah konsep seorang arsitek bernama Simon Stevin (1548-1620) yang bekerja untuk militer Kerajaan Belanda. Skema ideal, itulah yang dirancang Simon dalam perencanaan tata kota Batavia. Sebagai seorang kepercayaan Prins Maurits, seorang panglima milter Belanda berjuluk Pangeran Oranye, Simon mengawinkan pengetahuan mengenai kota, teknis enjineering yang dikombinasikan dengan ilmu kemiliteran. Konsep ini berpijak pada konsep dasar kota Romawi yang mengandalkan pertahanan dan mobilisasi militer. Simon lantas memadukannya dengan aspek perdagangan dan aspek sipil. Semuanya didesaian secara hirarkis dengan menempatkan aspek-aspek tersebut di wilayah yang strategis. Hal ini pula yang menjadi andalan Kerajaan Belanda dalam membangun kota jajahan lainnya di seluruh dunia seperti di Srilangka dan Suriname. 1

Batavia kemudian dirancang oleh Simon dengan cara seperti negeri asalnya, Belanda, yakni dengan membelah kota menjadi dua bagian dan menemukannya dalam titik lintas pelayaran. Sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit dan tembok yang ditopang oleh benteng-benteng kecil. Di dalamnya terdapat jaringan jalan beserta terusan air yang lurus. Dalam hal ini Ci Liwung yang berkelok kemudian diluruskan menjadi Groote Rivier (Kali Besar) dan memaksa kota menjadi dua bagian, sisi timur dan sisi barat. Namun kota ini jika dilihat dari peta-peta yang ada, tidak berada di garis lurus utara-selatan, tetapi agak melenceng beberapa derajat menjadi timur laut-barat daya.

Read More

Ritual Pagi

04:25 pagi saya melirik jam di ponsel, masih dalam kantuk yang tertahan. Lalu melangkah menuju sebuah tempat yang tentunya tidak asing lagi. Kemudian ruangan itu saya tutup daun pintunya “Breaakkk!!”

Apa yang saya lakukan di dalam ruangan ini tidak pernah ada yang tahu. Tidak seorang pun, kecuali Tuhan Yang Maha Pemurah. Ruangan itu pengap, tidak ada jendela sama sekali. Ada celah udara di pojok kanan, namun tertutup sebuah kardus. Semoga saja tidak ada yang mengintip. Inilah tempat ritual saya yang sangat rahasia. Tempat di mana segala ekspresi dan perasaan bisa ditumpahkan tanpa beban.

Samar corong speaker masjid mulai terdengar dari jauh.

Read More

Mitologi Optimistis

Kebudayaan itu bukan cuma ‘pameran lukisan’; ngopi juga kebudayaan, karena di sana bukan cuma ada perkara selera. ~ Seno Gumira Ajidarma

Baru-baru ini ada berita tentang seni latte art yang diciptakan dari sebuah mesin, bukan dari racikan jari-jari terampil sebagaimana yang kita kenal selama ini. Uniknya, hasil kreasi mesin tersebut bisa menampilkan hasil yang nyaris sempurna. Pelanggan tinggal menyerahkan foto yang diinginkan, dan dalam sekejap mesin tersebut akan melakukan scanning, lalu ditransfer ke mesin pembuat latte dan jadilah foto dalam kopi.

Mesin tersebut bisa saja dimusuhi siapapun yang berkecimpung di dunia latte art yang mengandalkan ketekunan dan kreasi tangan-tangan brilian. Dengannya, secangkir kopi bisa berhiaskan daun pakis, tokoh kartun, atau wajah sendiri yang terbubuhi busa di atas kopi.

“Sayang banget nih kalo diminum,” celoteh seorang teman ketika ditunjukkan foto latte art yang ada Angry Bird di atas kopi.

Beruntung sekali, kafe dengan mesin latte art tersebut tidak ada di Indonesia. Lebih beruntungnya, saya bukan penikmat kopi dengan ragam variasi dan embel-embel, bahkan warna sekalipun. Bagi saya, kopi adalah hitam. Tentu saja ini soal selera, karena seorang teman pernah berkata bahwa selera tidak bisa diperdebatkan.

Read More

Cara Indah Menikmati Hujan di Jakarta

Saat hujan turun, kota ini kerap memainkan sisi melankolisnya.

Selain banjir, apa lagi hal yang sering diingat kala mendung menggantung di langit Jakarta?

Hampir tak bisa dibedakan lagi ketika berangkat dan pulang kerja menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum, kemacetan bukan lagi momok yang menakutkan, tapi sudah jadi kebiasaan yang sudah tak layak untuk dikutuk dan dikeluhkan. Alih-alih mengumpat, yang ada justru malah membuang hal sia-sia. Apakah dengan mengutuk kemacetan lantas jalanan menjadi lancar seketika? Apalagi saat hujan turun di jam pulang kantor, laju akan terhambat karena banyak pengendara yang berteduh di bawah flyover. Jangan pernah bertanya mengapa mereka tak mempersiapkan diri dengan membawa jas hujan misalnya. Si pengemudi mungkin membawanya, tapi yang menumpang tak mau repot-repot karena tujuan mulanya toh hanya sekadar nebeng.

Ada hal yang dapat dinikmati di Jakarta saat hujan turun. Hujan kerap jadi pertanda apa-apa saja yang sedang dirasakan oleh para penghuninya. Suasananya, rintiknya, aromanya, dari air yang luruh dari langit. Kalau sudah seperti ini, Jakarta terkesan melankolis.

Maka dari kaca jendela sebuah kopaja yang berpacu lambat, bayangkan orang-orang di rumah yang sedang menunggu kehadiran kita. Si kecil yang sedang lucu-lucunya. Senyum merekah anak istri, pun pelukan hangat ayah, juga punggung tangan halusnya ibu yang kita cium bersamaan hidangan istimewa yang ia racik dari bilik dapurnya. Atau sekali dua kali libatkan dan larutlah dalam sebuah obrolan urban di mikrolet yang pintunya tertutup karena air yang kian meninggi. Daerah resapan air di kota ini makin hari kian memburuk. Menurut data BNPB, hanya 15% saja kawasan pemukiman di Jakarta yang wilayahnya membiarkan air hujan jatuh langsung meresap tanah.

Pernah pada suatu sore, saya memerhatikan obrolan ibu-ibu dalam sebuah mikrolet M-09 jurusan Tanah Abang-Kebayoran Lama di kala hujan deras. Satu rombongan keluarga yang saya tafsirkan mewakili tiga generasi: seorang nenek, ibu muda paruh baya, dan seorang anak kecil. Mereka berjejer duduk di dekat sopir. Di sudut paling ujung, ada ibu-ibu berpenampilan agak mencolok, dua-duanya berkacamata dengan ragam aksesoris dan tas bermerek. Sementara di depannya nampak seorang ibu hamil. Kelihatan. Sendirian. Di belakangnya lagi, nampak tiga perempuan dari dua generasi: ibu dan dua anak gadisnya yang terlihat panik karena beberapa kali menanyakan alamat pada sopir. Saya sendiri duduk membelakangi sopir. “Ibu mau nyobain? Ambil aja nih gak bayar kok,” terang seorang nenek dari keluarga tiga generasi. Rupanya, ibu hamil di hadapannya beberapa kali melirik jambu air yang sedang asyik dimakan cucu si nenek. Dengan malu, ibu hamil tadi sempat menolak walau akhirnya berujung, “Gak apa-apa nih saya minta?”

Lampu merah menghadang perjalanan di persimpangan Halte Trans Jakarta Slipi Petamburan. Satu persatu penumpang lainnya tiba di tempat tujuan. Dua ibu berpenampilan mencolok itu baru saja turun tak jauh dari seberang sebuah masjid yang mengarah menuju stasiun Palmerah. Sembari membuka payung, mereka sempat berdiskusi kecil sebelum membayar. Klakson mobil di belakang sempat mengundang kemacetan karena dua ibu itu tak ada uang pas, sementara sang sopir punya masalah serupa; tak punya kembalian. Kalau sudah begitu, kepanikan sopir angkot bisa dimaklumi dan jadi jawaban dari pertanyaan lawas, mengapa mereka suka ngetem seenak udel sih? Karena mereka dikejar setoran dan waktu, apalagi jika klakson dari arah belakang makin melengking-lengking. Tak bisa dipungkiri, sulit menerima kenyataan untuk mencegah ruang pribadi dimasuki budaya publik yang tak punya perubahan. Dari dalam mikrolet, ibu yang tengah hamil merogoh kocek dan menemukan empat lembar lima ribuan yang akhirnya ditukarkan pada dua ibu tadi.

Melintas Pasar Palmerah, hujan sudah mulai reda. Gerombolan anak kecil usia sekolah membawa payung menjajakan jasa menghampiri pintu mikrolet. Pak sopir memberhintakan pedagang asongan yang berjalan di depannya untuk memesan dua batang Dji Sam Soe. Laju kembali melambat.

Sepintas kalau dinikmati, hujan di Jakarta selalu mengundang cerita menarik. Bagi adik-adik ojek payung, tentu hujan selalu dinanti. Recehan yang didapat bisa membantu dan meringankan beban hidup orangtua mereka. Namun ada juga yang suka hujan karena menginspirasi untuk update status media sosialnya. Lantas menjadi penyair membayangkan nasib percintaannya.

Seorang kawan pernah berbagi pengalamannya menyoal hujan, “Aku suka hujan. Tapi pas mau menggalau, eh malah berhenti”.

Jakarta sore ini tetap turun hujan dan pantas dinikmati.

Jakarta nan Melankolis; Obrolan Tentang Cuaca dan Rasa

Di satu sore gerimis bulan November, kawasan Jakarta Selatan basah. Beberapa pengendara motor menepi untuk berteduh. “Awet nih kalau hujannya begini,” tutur Pak Gultom, mekanik sekaligus pemilik bengkel yang jaraknya tak jauh di deretan kantor yang ada di Jalan Mohammad Kahfi, Cipedak. Ia sedang membetulkan ban motor saya yang bocor. Beberapa saat sebelumnya, Pak Gultom baru membetulkan kasus yang sama.  “Kupikir yang tadi itu teman kau!” ujarnya dengan logat Batak yang kental.

Lantas saya membuka obrolan tentang cuaca yang ekstrim belakangan ini.  Selanjutnya ia sendiri mulai banyak bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari banjir, kemacetan, hingga suasana politik era 80-an. Ngobrolin soal politik, kondisi Jakarta saat itu sangat rawan dengan premanisme dan permainan para mafia. Korupsi sangat tertutup rapat karena dari satu instansi ke instansi lain selalu ada yang melindungi, siapa lagi kalau bukan yang punya kuasa. “Sekarang ini beda jaman, siapa saja bisa bersuara. Dulu mana bisa kau teriak-teriakin presiden sembarangan. Yang ada malah kau hilang dan tinggal nama,” ujarnya dengan semangat menggebu. Ia sendiri sudah merantau ke Jakarta sejak tahun 1981. Ia bisa saya ajak ngobrol sambil menunggu pekerjaanya usai. Ban motor yang bocor sedang dipanaskan oleh press ban elektrik yang dimilikinya. Hujan belum juga reda. Apa yang dikatakan Pak Gultom benar.

Read More