2019; Cebong Kampret Bersatulah!

2019 pagi sekali, hujan rintik turun sejak dinihari. Teh hangat bikinan ibu menemani lamunan di beranda yang belum jadi. Naik ke atap mencari sinyal simpati, sebuah pesan lambat terbalas dua kali.

Bawang merah berceceran dari kebun kecil berkotak kantung plastik. Kebun berkotak itu adalah kreasi ibu, bapak, dan si adik. Ada juga daun bawang dan cabai rawit yang tumbuh, lantas memberi tanda untuk dipetik. Sudah 2 hisapan kretek kuhabiskan dari ujung pemantik.

Tahun baru. Sama saja dengan yang sudah lalu. Tidak ada maksud untuk pesimis atau berharap pada kesan yang mungkin dianggap kaku. Sementara langit masih mendung, tak nampak si langit biru. Kicau burung peliharaan tetangga bersahutan meramaikan hari yang baru. Tak mau kalah dengan berita kawan-kawan di media sosial mengenai pergantian tahun dengan harapan-harapan dan kisah-kisahnya yang seru.

Ping. Bunyi pesan kembali berdenting. Dua kabar penting, satu lagi tak begitu genting. Ada berita bencana di Sukabumi, ada ucapan selamat tahun baru, dan (masih ada) penyebar konten yang gagap sharing. Kabar terakhir ini membuat kerut berkening. Kok iya ya, tahun 2019 masih saja menyebarkan hal-hal buruk sebagai senjata mengkultuskan tokoh politik taik kucing.

Saat mengetik ini, kretek dalam hisapan ketiga. Sebentar benakku menelaah sebuah tanya, tentang asa, wacana, dan retorika. Mungkin ini pertanda jika 2019 harus berpikir lebih sederhana. Katanya sih begitu, agar mencapai satu kesatuan bernama bahagia.

Bahagiaku saat ini memang sederhana, tapi kerap membuat resah. Dan entah pula bisakah nanti terwujud sampai pada kata sudah?

2019; cebong kampret bersatulah!

You may also like

Leave a comment